06 November 2019, 20:40 WIB

Harga Cengkeh di Nagekeo Diatur Tengkulak, Dua Nyawa Melayang


Ignas Kunda, Kontributor MetroTV | Nusantara

Ist
 Ist
Harga Cengkeh di Nagekeo Diatur Tengkulak

SEJUMLAH petani cengkeh di kecamatan Mauponggo dan Keo tengah  mengeluhkan harga cengkeh anjlok dalam sebulan terakhir. Kisaran harga cengkeh kini Rp 52-56 ribu per kilogram.

Sejumlah petani cengkeh geram dan kesal karena tidak ada standardisasi harga, walupun nyawa mereka menjadi taruhan.

"Om saya di kampung Gelu akhirnya meninggal gara-gara jatuh pohon cengkeh sekitar September lalu,harga cengkeh tahun ini jelek sekali," keluh Kletus warga di Desa Lodaolo, Kecamatan Mauponggo, Rabu (6/11).

Menurut Kletus, harga tahun ini menurun drastis sekitar 50% jika dibandingkan dengan tahun lalu dalam bulan yang sama karena harga bisa Rp100-an ribu per kilogram. Ia menyanyangkan bahwa selama proses pemetikan mengeluarkan biaya sangat besar untuk upah buruh sebesar Rp60 ribu-Rp70 ribu per hari.
 
"Upah buruh tidak sebanding denga harga cengkeh tahun ini, kami rugi karena upah harian untuk yang petik cengkeh di luar makan minum rokok buat mereka. Jadi paling tidak mereka harus petik 12 kilo cengkeh basah untuk dapat 4 kilo kering sehingga harga jualnya buat kami untung," kata Kletus.

Pengeluhan yang sama diungkapkan oleh Marsi salah seorang petani di Desa Wololelu, Kecamatan Mauponggo, bahwa harga sekarang tak sebanding dengan risiko yang diterima serta ongkos pemetikan yang mengeluarkan anggaran begitu besar.
 
Untuk menyiasati agar cengkeh bisa membawa keuntungan buat mereka maka mereka harus menunda penjualan di tahun berikut menunggu harga kembali naik. Pengakuan Marsi di kebun yang berdekatan dengannya telah ada 2 orang terjatuh dari pohon cengkeh dengan satu orang meninggal dunia.

Bagi Marsi, ini menjadi risiko pemilik cengkeh karena menjadi penghasilan utama tiap tahun hampir rata-rata warga di bawah kaki Gunung Ebulobo.

"Saya mempunyai tenaga pemetik 8 orang dengan upah 70 ribu sehari belum termasuk sabun mandi, makan, segala keperluan mereka karena mereka langsung meginap di rumah saya, ini belum lagi risiko besar kalau sempat jatuh dari pohon cengkeh. Bapak yang pinjam tangga saya punya yang berdektan kebun jatuh sampai meninggal dunia, tapi harga cengkeh begini sangat berbanding terbalik," keluh Marsi.


Baca juga: Penyeludupan Sabu ke Sel Tahanan Polrestabes Medan Digagalkan


Senada dengan Marsi dan Kletus, hal yang sama juga dikeluhkan Vitalis petani lain di Kecamatan Mauponggo. Ia menjelaskan, harga cengkeh tahun ini di luar perkiraan para petani dan tidak sebanding dengan ongkos produksi yang dikeluarkan selama pemetikan cengkeh.

Menurutnya, harga cengkeh pada 2018 mencapai Rp90.000 per kg, sementara harga pada 2017 malah mencapai Rp120.000 per kg.

"Jadi harga Rp52.000 ini sangat mengejutkan karena jauh lebih murah daripada tahun-tahun sebelumnya. Padahal pohon cengkeh membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun untuk berbunga, dan proses sampai panen sangat panjang dan membutuhkan biaya sangat besar," kata Vitalis.

Ia mengaku tidak tahu penyebab turunnya harga cengkeh tersebut. Ia dan beberapa petani lain terpaksa menjualnya kepada para pengepul karena kebutuhan keluarga dan ongkos produksi.

"Saat kami hendak menjual ke pembeli,kami diberitahu bahwa cengkeh dihargai Rp 52.000 per kg saja.Kami terpaksa jual saja karena butuh.Kalau dibilang merugi, sangat rugi. Karena biaya memetik cengkeh sangat besar.Kami bayar orang petik cengkeh Rp 70.000 per orang per hari. Satu orang paling banyak memetik 3 kg cengkeh setiap hari.Belum proses menjemur yang butuh waktu cukup lama,"paparnya.

Vitalis menjelaskan bahwa satu pohon cengkeh miliknya, paling banyak menghasilkan 25 kg cengkeh setiap musim panen. Hanya pohon tertentu dapat memperoleh hasil melimpah.

"Bayangkan, hasil tidak terlalu banyak, biaya petik tinggi dan harga jual turun drastis. Kami mau harap apa? Hampir semua warga di sini tanam cengkeh.Semoga pemerintah bisa melakukan upaya, sehingga harga kembali stabil.Kalau tidak petani rugi terus," sesalnya.

Hal yang sama dikeluhkan Kepala Desa Mbaenuamuri di Kecamatan Keo Tengah, Petrus Sambu Juang. Petrus menyampaikan bahwa harga cengkeh di desanya juga berada pada angka Rp52.000 per kg.

"Warga saya banyak yang mengeluh karena biaya produksi lebih tinggi daripada harga jual.Tetapi banyak di antara mereka yang terpaksa jual karena butuh uang," katanya.

Petrus mengaku tidak paham mengapa harga cengkeh bisa turun drastis. Ia berharap agar segera ada tindak lanjut dari dinas terkait untuk menstabilkan harga.

"Semoga ada tindak lanjut setelah informasi ini diketahui. Jangan biarkan petani merugi, karena cengkeh adalah komoditi primadona di kecamatan kami," harapnya.

Camat Mauponggo, Nikolaus Bobo, menyatakan bahwa dirinya menerima banyak keluhan masyarakat terkait harga cengkeh yang turun drastis. Nikolaus mengharapkan tidak ada permainan dari pihak tengkulak untuk menurunkan harga cengkeh.

"Semoga segera ada perda yang mengatur tentang harga cengkeh.Kasihan masyarakat petani, kalau harga Rp52.000 mereka merugi," katanya.

"Saya harapkan agar jangan ada permainan harga. Jangan mentang-mentang pembeli dari luar belum masuk, maka pembeli lokal dapat bebas menentukan harga," pungkasnya.

Data yang dihimpun Legiun Jurnalis Nagekeo sedikitnya dalam tahun ini 4 orang warga mengalami kecelakaan terjatuh dari pohon cengkeh dengan 2 orang meninggal dunia di Kecamatan Mauponggo. (OL-1)

BERITA TERKAIT