06 November 2019, 19:37 WIB

Kunjungi Indonesia, Mendag AS Tepis Berpaling dari Asia Tenggara


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara/Nova Wahyudi
 Antara/Nova Wahyudi
Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross saat bertemu dengan Menko Perekonomian RI Airlangga hartarto

MENTERI Perdagangan Amerika Serikat (AS) Wilbur Ross melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas soal investasi dan beberapa isu bilateral perdagangan kedua negara.

Sebelum menyambangi Indonesia, Ross bersama dengan jajarannya telah lebih dulu mendatangi India, Singapura, Australia, Thailand. Seusainya dari Indonesia, ia akan menyambangi Vietnam.

Kunjungan Ross ke negara-negara Asia diakui olehnya sebagai wujud komitmen nyata pemerintah Amerika masih memiki minat besar untuk berinvestasi di negara-negara tersebut.

"Kedatangan kami di sini sekaligus mematahkan anggapan bahwa kami tidak lagi berminat untuk berinvestasi. Anggapan itu salah besar. Asia Tenggara merupakan mitra regional utama kami di perdagangan," ujar Ross usai melakukan pertemuan, Rabu, (6/11).

Ia menambahkan, negara-negara di Asia Tenggara, tetap akan menjadi mitra kerjasama dalam perdagangan. Meski beberapa negara di Asia kini mengalami pertumbuhan yang kian menurun, Ross mengatakan, pihaknya tetap optimistis pada kemampuan negara-negara di Asia Tenggara.

Baca juga : Donald Trump Tarik AS dari Perjanjian Iklim Paris

"Kerjas ama ini sangat penting bagi kami, kami sangat percaya diri dengan apa yang terjadi ke depannya," ungkap Ross.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kerjas ama antara Indonesia dengan Negeri Paman Sam akan terus berlanjut seiring dengan berbagai pembangunan dan perbaikan yang dilakukan Indonesia.

"Investasi dan kerja sama Amerika di Indonesia. Antara lain ada harapan terkait enginering companies yang akan melakukan kegiatan di Indonesia," tutur Airlangga.

Selain itu dibahas juga soal Generalized System of Preferences (GSP) yang merupakan tarif preferensi suatu negara untuk memberikan pengecualian terhadap aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dengan GSP tersebut, satu negara dapat memberikan tarif bea masuk yang ringan kepada eksportir. Untuk memantapkan hal itu, Airlangga mengatakan akan meminta pihak kementerian perdagangan untuk mengurusinya.

"Diharapakan segera dilakukan dan indonesia mengatakan akan segera mengirim tim di bawah kemendag," ungkapnya.

Baca juga : Komitmen Tidak Jelas, India Bisa Angkat Kaki dari RCEP

Ia menambahkan, untuk melanggengkan kegiatan investasi di Indonesia, pemerintah akan terus memfasilitasi para investor dengan memberikan kemudahan. Salah satunya yakni omnibus law yang tengah dimatangkan oleh pemerintah.

"Karena ada permintaan juga batasan-batasan mengenai permodalan dan kemitraan. Nah ini yang dijanjikan dalam waktu 3 bulan. Pemerintah akan memperbaiki yang kami masukan ke dalam omnibus law," jelas Airlangga.

Diketahui, Negeri Paman Sam merupakan negara tujuan ekspor nonmigas terbesar bagi Indonesia. Data Kementerian Perdagangan tahun 2018 misalnya, AS adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral sebesar 28,6 miliar dolar AS, naik 10,42% dari periode sama tahun sebelumnya.

Nilai Investasi Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) AS di Indonesia juga menyentuh angka 1,217 juta dolar AS dengan 572 proyek.

Indonesia sendiri merupakan negara tujuan investasi dari para pengusaha AS dalam sektor ekstraktif atau sumber daya mineral, serta menjadi pasar potensial bagi produk-produk AS lainnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT