06 November 2019, 22:20 WIB

Fokus Streetfood dan Bumbu


Fetry Wuryasti | Humaniora

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Kenneth Chandra dan Gratiana Lianto

BELAKANGAN, food vlogger banyak berseliweran di dunia maya. Salah satunya Kenneth Chandra dan Gratiana Lianto, yang memulai jalan mereka sejak 2015.

Kecintaan mereka akan rasa, tekstur, warna, dan budaya dari makanan menarik perhatian mereka. Padahal, di awal mereka memutuskan mengulas makanan di media sosial Instagram, akun @kenandgrat mereka diragukan. Kini followers mereka sudah men­capai 239 ribu.

Gratiana, atau akrab disapa Grat, mengaku Ken panggilan akrab Kenneth yang memulai ulasan makanan lebih dulu. Kala itu, Ken menggunakan akun Instagram @coworakus. Konsepnya pun sederhana, foto makanan di­berikan penjelasan.

“Baru sekitar 2016 awal, kita masuk ke Youtube. Lagi-lagi hanya Ken. Saya yang merekam. Karena dia pintar ngomong dan suka eksplor makanan, juga pernah tinggal di Kanada beberapa tahun. Jadi, sudah eksplor bahan-bahan makanan. Lalu di akhir 2016, saya mulai muncul di layar. Sejak saat itu, dari kami eksplor macam-macam makanan karena suka mencoba segala macam dan tidak ada pantang makanan apapun,” cerita Grat kepada Media Indonesia, Kamis (3/10).

Mereka mengawali ulasan makanan mereka dari kosakata yang telah dikenal sejak kecil, termasuk makanan legendaris. Seiring waktu dan bertumbuhnya food vlogger, mereka pun mencari makanan apa yang sedang tren. Apalagi pangsa pasar mereka kebanyakan anak muda yang menanti ulasan tempat nongkrong atau makanan hit terbaru.

Mereka tidak ragu meminta referensi dari followers dan blogger asing, serta artis yang baru memulai bisnis ataupun setelah melakukan perjalanan.

Namun, bukan berarti mereka hanya mengikuti tren semata. Pasangan suami istri itu tetap fokus pada streetfood tradisional yang menjadi passion mereka.
Keputusan fokus itu membuat mereka memiliki ciri khas tersendiri meski saat ini food vlogger sudah menjamur.
Terbaru, mereka baru saja mencoba tarantula goreng di Hanoi, Vietnam, yang rupanya menjadi makanan lazim masyarakat setempat.

“Karena gaya kami reviewer makanan, jadi kami untuk memperkuat brand dengan tetap harus banyak belajar tentang bumbu-bumbu makanan apa la­gi yang belum diketahui sebelum­nya. Meluaskan wawasan kami juga supaya ke depannya orang makin tahu Ken and Grat ini food vlogger yang memang kasih tahu dan punya channel yang lebih informatif tentang makanan,” ujar Grat.

Meski tidak belajar bumbu-bumbu secara spesifik, Grat mulai bisa membedakan bumbu sejak menjadi food vlogger. Bila ia menemukan rasa yang tidak pernah dicap lidahnya, ia tidak segan bertanya ke penjual atau yang  memasak.

Setiap makanan, kata Grat, pasti memiliki pakem. Misalnya, untuk membuat terasi rawon, pasti menggunakan keluak. Namun, ada sejumlah bumbu yang hadir dan memberikan keunikan hidang­an itu. Seperti daun jeruk atau daun salam di dalamnya, sampai rasa mirip daun cilantro.

"Tugas kami untuk bisa identifikasi bedanya apa makanan ini dan itu. Makanan itu kami coba karena dan untuk bikin konten juga. Lingkup makanannya sangat variasi dari yang paling mu­rah hingga paling mahal,” ujar Grat.

Dalam seminggu, mereka melakukan syuting 1-2 kali saja. Pasalnya, untuk produksi biasanya memakan waktu 2-4 jam dan proses editing hingga posting di kanal Youtube sekitar 1-2 minggu.

Setiap klien atau tempat yang diangkat, mereka memiliki cara penanganan yang berbeda. Untuk tempat baru dan belum ramai, bentuknya kerja sama atau condong lebih membantu promo saja. Terkadang mereka datang dan jajan layaknya pengunjung biasa.


Tanggung jawab ke penonton

Kini mereka melebarkan sayap dengan kerja sama yang tidak terbatas untuk makanan. Kerja sama berupa obat, vitamin, dan brand pakaian pun dikemas mereka secara soft sale.

Meski begitu, Ken menekankan mereka tetap selektif dalam memilih produk yang dipakai atau konsumsi. Karena mau seperti apa pun influencer-nya, kalau makanan tidak enak, ya, tidak akan laku.

“Kita takut memberi saran ke penonton, tapi yang barangnya atau makanannya tidak sesuai. Karena tanggung jawabnya sangat besar. Kita tahu yang nonton banyak anak kecil orang di bawah umur. Jadi, kita dalam membawa diri harus memperhatikan banyak hal,” ujar Ken.

Influencer, kata Ken, penting untuk punya idealisme tersendiri. Jangan sampai seseorang mengulas makanan membuatnya ramai hanya di awal, dan setelah itu hilang.

“Jadi, memilih produk yang dirasa ada potensi, sudah percaya dengan konsepnya, rasanya, dan punya keyakinan kalau barang ini kita juga mau beli,” jelas Ken.

Ken memandang kegiatan food vlogger bisa jadi profesi. Pasalnya, basis food vloger ialah dunia hiburan, penonton yang menyaksikan Youtube, serta bahasan mengenai makanan yang semua orang menyantapnya.

Meski demikian, dia akui memang perlu terus mencari peluang dan kemungkinan baru yang bisa diciptakan untuk menghasilkan uang. Di luar pekerjaan sebagai Youtuber, pasangan ini memiliki usaha pabrik garmen untuk membuat baju anak-anak.

“Sebenarnya, walaupun Youtuber makanan, tetap saja di dunia entertainment. Ini sesuatu yang orang tonton. Namun, bisa saja suatu hari nanti orang bosan. Jadi, untuk jangka panjang 10-20 tahun, kita tetap harus persiapkan yang terburuk kalau sudah tidak ada yang menonton. In the mean time, kita tetap melakukan ini, tentunya menjadi pekerjaan utama, tetapi kami mempersiapkan diri untuk nanti. Perlu yang namanya jangan menopangkan kaki di satu tempat saja. Jadi, kita selalu harus mencari kemungkinan-kemungkinan baru,” tukas Ken. (M-3)

BERITA TERKAIT