06 November 2019, 17:35 WIB

Balaputra Dewa Bidik Kaum Milenial Cintai Kain Sumsel


Dwi Apriani | Humaniora

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
Sejumlah pelajar mengujungi pameran kain khas Sumsel di Museum Balaputra Dewa, Palembang

SEJUMLAH  pelajar tampak dengan seksama mengamati sejumlah kain indah berwarna warni yang dipajang di sudut Museum Negeri Balaputra Dewa Sumatra Selatan (Sumsel), siang awal pekan ini.

Tak sedikit diantaranya berdecak kagum melihat hasil karya tangan trampil seniman Bumi Sriwijaya dalam merajut kain-kain indah yang dipamerkan di museum yang berdiri kokoh di Jalan Srijaya Km 5 Palembang itu.

''Wow cantik nian, kain ini. Coba kalau aku bisa merajutnya pasti asyik,'' tutur Ani, 15, pelajar SMK berkata pada temannya.

Terlihat tidak cuma kain khas Sumsel songket dan jumputan yang di gelar di museum itu, namun ajang yang di gelar selama sepekan tersebut juga menampikan keindahan batik lasem, kain rumpak, sarung tajung poleng limar patut.  

Rupanya, pameran kain khas Sriwijaya kali ini sengaja dikemas untuk menarik perhatian kalangan milenial. Terbukti sejak awal di bukannya pemeran berbagai pelajar mulai dari tingkat sekolah dasar hingga seolah menengah atas (SMA) silih berganti tandang ke museum Balaputra Dewa.

''Saat ini banyak kaum milenial, utamanya pelajar yang belum mengerti dan mengetahui aneka kain khas Sumsel. Karenanya kami mengajak mereka untuk datang dan melihat dengan detail kain-kain khas ini,'' ujar Kepala Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, Chandra Amprayadi.

Bukan hanya melihat dan mengenal saja, lanjut dia, para pelajar juga dapat mengetahui sejarah dari masing-masing kain yang ada di pameran tersebut.

''Sekarang memang kiblat fashion anak-anak muda sudah mengarah pada fashion kebarat-baratan, sehingga sangat minim sekali anak-anak muda yang mengagumi kain khas dari kotanya sendiri. Disini harapan kami bisa membuka pemikiran mereka untuk mencintai budaya khas dari daerahnya,'' jelasnya.

Untuk itu pihak museum, mengenalkan songket dan jumputan yang sudah populer dikalangan anak muda dengan puluhan jenis maupun motif, termasuk kain jenis lainnya.

''Songket itu sebenarnya sudah ada dari zaman Kerajaa Sriwijaya, bahkan saat masa Palembang Darusalam pun sudah dipakai. Tapi tidak banyak milenial yang paham soal ini. Karenanya pameran seperti ini akan jadi agenda rutin kita,'' paparnya.

Agar lebih luas pengetahun tentang jenis-jenis kain khas tersebut, di ruang pameran pun menempatkan sejarah masing-masing kain.

''Masing-masing kain ada sejarahnya, mulai dari kelahiran, pernikahan hingga kematian,'' tambah Chandra.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Sumsel, Aufa Syahrizal mengungkapkan, dengan adanya pameran seperti ini akan mampu mendongkrak kunjungan ke museum itu sendiri.

Menurutnya, para pengunjung bisa mendapatkan informasi tentang kain, serta dapat mengingat kembali terkait filosofi terhadap motif dan warna kain tradisional. Dengan begitu, para pengunjung utamanya kaum milenial dapat meningkatkan rasa cinta tentang kain produk Sumsel.

''Sumsel punya banyak kekayaan budaya. Ada sebagian sudah trungkap dan ada sebagian belum diungkap dan belum dilestarikan. Awalnya kami ingin mengajak orang-orang untuk kenal museum,'' kata Aufa, sembari menyebutkan, pihaknya juga akan menggelar seminar dan sosialisasi terkait kekayaan seni di Sumsel.

Sedangkan menurut Wakil Gubernur Mawardi Yahya, para pemuda masa kini harus mengetahui dan mengenal motif dan corak pakaian yang digunakan pada masa prasejarah nenek moyong, masa revolusi hingga saat ini. Diakuinya, Pemprov melalui OPD terkait akan terus berusaha melestarikan keanekaragaman seni dan budaya lokal yang ada di daerah ini. Termasuk di dalamnya keberadaan pesona kain tradisional yang selama ini nyaris punah ditelan kemajuan zaman.

''Sekarang yang penting adalah bagaimana kita mesosialisasikan pada generasi muda akan pentingnya arti budaya Indonesia yang merupakan warisan para leluhur. Kita Pemerintah Provinsi sangat peduli dengan cagar budaya, karena itu kita pasilitasi untuk di renovasi jika memang sudah tidak layak,'' kata Mawardi.

Ia menambahkan, sudah menjadi tugas pemerintah dalam mempertahanakan adat istiadat sehingga tidak tergerus oleh derasnya budaya lokal yang masuk. Karena itu dia mengharapkan peran generasi muda untuk aktif ikut melestarikan warisan budaya dengan menggali kembali nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam seni tradisional. Seperti corak yang ada pada kain-kain tradisional yang diperkaya dengan motif, warna, teknik pembuatan dan kegunaannya.

Mawardi mengungkapkan ada kebanggaan sebagai orang Sumsel, dimana songket Palembang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dengan kategori kemahiran dan kerajinan tradisional. "Kita juga harus bangga, mulai dari budaya sampai produk-produk yang dimiliki Sumsel kualitasnya tidak kalah dengan produk-produk dari luar Provinsi bahkan negara lain," terangnya. (OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT