06 November 2019, 16:35 WIB

Pinera tidak akan Mundur sebagai Presiden Cile


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/Ronaldo Schemidt
 AFP/Ronaldo Schemidt
Demonstran membawa spanduk bertuliskan Pinera Out

PRESIDEN Cile Sebastian Pinera tak gentar menghadapi demonstrasi mematikan yang telah memasuki pekan ketiga di Cile dan enggan mundur dari jabatannya sebagai kepala negara.

"Tidak," tegas Pinera dalam sebuah wawancara dengan BBC, Selasa (5/11).

"Masalah-masalah ini telah terakumulasi selama 30 tahun terakhir. Saya bertanggung jawab (untuk) bagian itu dan saya memikul tanggung jawab saya, namun saya bukan satu-satunya," terang Pinera.

Pinera juga membela keputusannya untuk mengumumkan status keadaan darurat Cile. Namun, ia berjanji memeriksa dugaan kekerasan dan penyalahgunaan kekuasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran.

"Ada banyak dugaan keluhan tentang penggunaan kekuatan yang berlebihan dan jika itu terjadi saya dapat menjamin itu akan diselidiki. Tidak akan ada impunitas" ungkap Pinera.

Demonstrasi yang berujung kekerasan membuat pemerintah Cile terpaksa membatalkan menjadi tuan rumah gelaran KTT Kerja sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 16-17 November dan KTT Iklim COP25 pada 2-13 Desember.

Baca juga: Ribuan Orang Kembali Turun ke Jalan di Cile

Federasi sepak bola Cile, Selasa (5/11), juga mengumumkan pembatalan pertandingan persahabatan internasional dengan Bolivia yang seharusnya digelar di Stadion Nasional Santiago pada 15 November.

Momen wawancara tersebut datang bersamaan dengan Pinera yang mengumumkan serangkaian langkah-langkah bagi usaha kecil dan menengah yang terdampak kerusuhan. Sekitar 6.800 perusahaan yang terdampak kerusuhan, penjarahan maupun kebakaran akan mendapat tunjangan dari bantuan keuangan dan pengurangan pajak oleh pemerintah Cile.

Memasuki pekan ketiga, para demonstran di Santiago terlibat bentrok dengan aparat polisi dan melakukan penjarahan ke toko-toko yang berakhir pada Senin (4/11). Penjarahan dan vandalisme juga dilaporkan terjadi di kota-kota Vina del Mar, Valparaiso dan Concepcion. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menyatakan aksi massa belum usai.

"Ini belum berakhir," teriak para demonstran.

Akhir Oktober, Pinera mengumumkan perombakan besar kabinetnya sebagai upaya menghentikan aksi demonstrasi. Namun, upaya tersebut agaknya belum signifikan meredam massa turun ke jalan.

Warga Cile lantas menyerukan reformasi konstitusi yang disebut berasal dari era kediktatoran Augusto Pinochet pada 1973 hingga 1990. Demonstrasi yang awalnya memprotes kenaikan tarif metro kemudian memicu kerusuhan sipil terburuk di Cile dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Kemarahan warga Cile tersebut dipicu atas upah dan pensiun yang rendah, pelayanan kesehatan dan biaya pendidikan yang mahal serta kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan miskin. Media lokal menyebut setidaknya 20 orang telah tewas dalam demonstrasi memprotes ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang meletus sejak Jumat (18/10).(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT