06 November 2019, 08:10 WIB

59 Perusahaan Masuk Indonesia


Haryanto | Ekonomi

MI/Susanto
 MI/Susanto
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

SEWAKTU memimpin rapat terbatas dengan topik antisipasi perekonomian global di Kantor Presiden, Jakarta, 4 September 2019, Presiden Joko Widodo tidak kuasa menyembunyikan kekecewaannya karena banyak perusahaan Tiongkok memilih berinvestasi di negara lain selain Indonesia.

Menurut Kepala Negara, dirinya menerima laporan terkini dari Bank Dunia bahwa sebanyak 33 perusahaan yang keluar dari Tiongkok justru menanamkan modal ke negara tetangga.

"Sebanyak 23 (perusahaan) berinvestasi di Vietnam dan 10 lainnya ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Tidak satu pun ke Indonesia," kata Jokowi ketika itu.

Kekecewaan Presiden dua bulan silam itu boleh jadi segera berganti harapan. Pasalnya, sebagaimana diutarakan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Tengah, Ratna Kawuri, sebanyak 59 perusahaan Tiongkok yang bergerak di sektor industri kayu dan furnitur akan merelokasi industri mereka ke Provinsi Jawa Tengah.

"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kami ingin menggairahkan investasi di sektor pariwisata dan manufaktur. Menariknya, ada 59 investor dan pengusaha Tiongkok yang bergerak di sektor industri kayu dan furnitur berencana merelokasi industri mereka ke Jawa Tengah," kata Ratna seusai menghadiri acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin.

Ratna mengungkapkan peserta yang berpartisipasi pada CJIBF mencapai 500 orang. Mereka ialah investor asing sebanyak 73 orang, investor domestik 254 orang, peserta dari dalam negeri 70 orang, dan 110 dari kedutaan besar negara sahabat, asosiasi pengusaha, BUMN, serta lembaga keuangan ataupun perbankan. Total investasi yang ditawarkan dalam kegiatan CJIBF mencapai Rp75 triliun dan US$810 juta.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengapresiasi dan mengatakan akan melakukan terobosan untuk terus-menerus membenahi iklim investasi di dalam negeri.

"Kami bantu investor untuk mengeksekusi sampai jadi pabriknya. Salah satu yang menarik investor Tiongkok hijrah ke Jawa Tengah karena pelayanan yang baik. Jateng itu menduduki peringkat pertama dalam penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu. Kita proaktif menangkap peluang relokasi perusahaan yang terkena dampak perang dagang AS-Tiongkok," ujar Bahlil.

 

Sumber: BKPM

 

Politik stabil

Kepala Kajian Makro LPEM Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu, menilai Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Salah satunya dengan menjaga iklim investasi tetap kondusif.

"Jangan terpaku pada (investor) asing, investor domestik pun perlu didorong untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Kita ini kan sedang dan akan menghadapi krisis global sehingga harus mampu mencapai pertumbuhan investasi di atas level 6%," ungkap Febrio.

Sementara itu, BPS mencatat pada triwulan tiga tahun ini investasi tumbuh sebesar 4,21%. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, capaian tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan di periode yang sama 2017 sebesar 7,08% dan 2018 sebesar 6,96%.

"Kami memproyeksikan kinerja investasi membaik pada triwulan berikutnya seiring stabilnya kondisi politik seusai terpilihnya pemerintahan baru. Kita harap pada triwulan empat membaik kembali," tandas Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, kemarin. (Van/Mir/Hld/Ant/X-3)

 

BERITA TERKAIT