06 November 2019, 07:50 WIB

Menkes Tanyakan Mahalnya Harga Obat


(Ata/Ind/H-2) | Humaniora

Dok.Kemenkes
 Dok.Kemenkes
Menkes Koordinasikan Harga Obat dengan BPOM

MENTERI Kesehatan Terawan Agus Putranto menyambangi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito di Gedung Badan POM, Jakarta, Senin (4/11). Kedatangannya berdasarkan amanat Presiden Joko Widodo kepada Menkes untuk mengatasi mahalnya harga obat di negeri ini.

"Harga obat yang tinggi berarti ada sesuatu yang harus ditindaklanjuti," kata Menkes Terawan, kemarin.

Menurut Menkes, harga obat di pasaran akan menjadi murah apabila memperhatikan sejumlah aspek, yaitu adanya persaingan antara produsen obat, kemudahan regulasi, dan daya beli masyarakat yang tinggi. "Masalah regulasi, yang penting tidak boleh salah karena kalau salah akan berdampak ke depannya," kata Terawan.

Terawan menilai, dalam hal ini Badan POM memegang peran penting dalam regulasi pengawasan dan perlu penguatan dari Kemenkes. "Saya harus bisa membantu, baik dari regulasi maupun anggaran," ucap Terawan.

Health Economist dari Unpad Auliya A Suwantika mengatakan, produsen farmasi lokal harus didorong untuk bisa membuat sendiri obat dan tidak mengandalkan bahan baku impor. Koordinasi penguatan riset dan teknologi pembuatan obat pun menjadi penting.

"Kemenristek dan Kemenkes bisa duduk bersama membahas ini. Jadi, riset obat yang dibuat memang yang dibutuhkan dan bernilai. Jangan parasetamol lagi. Harusnya riset yang nilai advantage-nya itu obat kanker. Parasetamol kan harganya murah," ucapnya, belum lama ini.

Ketua Dewan Pengurus Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Prof dr Hasbullah Thabrany menyampaikan, obat ialah komponen mutlak layanan kesehatan. Namun,, tidak ada yang tahu pasti berapa kebutuhan biaya obat . (Ata/Ind/H-2)

BERITA TERKAIT