06 November 2019, 07:20 WIB

Diabetes Mengintai di Balik si Boba


Indriyani Astuti | Humaniora

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Diabetes

LAYANAN pesan antar makanan milik Gojek, Go-Food, menyebutkan bahwa minuman bubble tea atau boba menjadi minuman terfavorit tahun ini, sedangkan minuman berkarbonasi tidak masuk dalam urutan lima besar.

Boba menjadi minuman yang paling banyak dipesan bersama dengan empat minuman manis lainnya, seperti brown sugar, oat drinks, dan regal drinks.

"Masyarakat Indonesia dan perkotaan itu memang lagi senang-senangnya manis dan dingin," ujar VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek, Rosel Lavina, di Jakarta, belum lama ini.

Boba berasal dari Taiwan dan dikenal dengan nama zenzhu naicha. Dalam laman Eater, boba dikatakan sebagai kategori luas dari chunky drinks, seperti es teh, jus, dan minuman apa pun yang memakai mutiara tapioka.

Minuman asal Taiwan itu memang sedang digila-gilai pencinta kuliner di Indonesia. Selain boba, es kopi kekinian juga sedang digilai pencinta kuliner, khususnya kaum milenial. Baik boba maupun es kopi kekinian, umumnya mengandung banyak gula.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Dwi Oktavia Handayani MEpid mengingatkan, minuman berpemanis seperti boba dan es kopi bisa memicu risiko diabetes melitus atau kencing manis. Di samping itu, kalori yang tinggi pada minuman tersebut juga membuat orang berisiko mengalami obesitas atau kegemukan. "Jadi, kalau mau menikmati minuman manis tidak boleh sering, harus seimbang," ucapnya dalam acara Kampanye Deteksi Dini dan Batasi Gula Garam Lemak untuk Cegah Diabetes di Jakarta, kemarin.

Konsumsi gula yang dianjurkan menurut WHO ialah maksimal empat sendok makan per hari. Apabila gemar mengonsumsi minuman manis, kata Dwi, harus diimbangi dengan kebiasaan rutin berolahraga dan makan makanan mengandung serat tinggi supaya gula dapat diserap tubuh dengan baik menjadi energi.

Tanpa aktivitas fisik, imbuhnya, gula ditimbun menjadi lemak dalam tubuh. Selain itu juga menyebabkan resistansi insulin dalam tubuh yang berujung pada diabetes. Insulin ialah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik karena terganggunya respons sel tubuh terhadap insulin.

Menurut Dwi, seseorang dapat mengalami resistansi insulin selama bertahun-tahun tanpa pernah menyadarinya. Umumnya, diawali dengan tingginya kadar gula dalam darah.

Kadar gula dalam darah yang tidak terkontrol yang diakibatkan diabetes melitus membuat dinding pembuluh darah tersumbat. Kemudian, rentan menimbulkan penyakit lain seperti kardiovaskular, yakni jantung, stroke, atau gangguan ginjal.

Sekali setahun

Untuk mencegah agar jangan sampai diabetes, masyarakat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah setidaknya sekali dalam setahun.

Saat pemeriksaan kadar gula darah sewaktu menunjukkan lebih dari 200mg/dl, artinya orang tersebut mempunyai gejala diabetes atau saat pemeriksaan gula darah puasa menunjukkan lebih dari 126 mg/dl.

Untuk melihat kadar gula darah, juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan HbA1c, apabila nilainya di atas lebih dari 6,5, seseorang dapat dikatakan menderita diabetes.

"Diabetes disebut dengan mother of disease, ibu dari segala penyakit. Kadar gula yang tinggi pada darah mengakibatkan pembuluh darah menyempit. Itu penyebab sakit jantung, stroke, dan gagal ginjal," terang Dwi

Head of Division Corporate Communication Nutrifood Angelique Dewi mengatakan, selain pemeriksaan kesehatan, masyarakat juga sebaiknya membatasi asupan gula, garam, dan lemak setiap hari.

Adapun batasan kadar gula yang dianjurkan per hari sebanyak maksimal empat sendok makan, konsumsi garam maksimal satu sendok teh per hari, dan lemak maksimal lima sendok makan per hari.

"Kita mengedukasi konsumen membaca label kemasan yang baik. Kalau dibaca di kemasan, misalnya, batasan gula 50 gram per hari atau empat sendok makan harus dilihat satu botol untuk berapa kali penyajian. Sering terkecoh dengan minuman dalam botol," sebutnya. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT