06 November 2019, 05:25 WIB

Pertumbuhan masih Terjaga


M Ilham RA | Ekonomi

 MI/PIUS ERLANGGA
  MI/PIUS ERLANGGA
 Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto

BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 sebesar 5,02%. Tidak terlalu menggembirakan, tetapi masih lebih baik daripada negara-negara lain.

"Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, meski melambat, tidak terlalu curam ketimbang negara maju dan negara berkembang lainnya di tengah perang dagang yang terjadi," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Kecuk--sapaan akrab Suhariyanto--menjelaskan salah satu penyebab perlambatan itu ialah kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian.

"Pertumbuhan mengalami perlambatan. Perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian membawa dampak perlambatan di banyak negara," ujarnya.

Merujuk pada data IMF, perekonomian dunia saat ini mengalami tekanan cukup berat. Hal itu terlihat dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019 yang turun sekitar 0,7%, dari proyeksi 3,7% menjadi 3%.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan III 2019 lebih lambat jika dibandingkan dengan di periode yang sama hingga empat tahun ke belakang.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2016 tercatat sebesar 5,03%, triwulan III 2017 sebesar 5,06%, dan triwulan III 2018 sebesar 5,17%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didukung konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01%, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT) 7,44%, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 4,21%.

Selain itu, konsumsi pemerintah yang tumbuh 0,98%, ekspor 0,02%, dan impor yang terkontraksi 8,61% ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian pada triwulan III 2019. Atas pertumbuhan ekonomi nasional yang masih terjaga itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin sore mendapat apresiasi pasar.

Terpantau, pergerakan rupiah menguat 47 poin atau 0,34% menjadi 13.968 per dolar AS dari sebelumnya 14.015.

Kepala Riset Valbury Asia Future, Lukman Leong, di Jakarta mengatakan data produk domestik bruto (PDB) yang di atas ekspektasi direspons positif oleh pelaku pasar uang sehingga mendorong nilai tukar rupiah berbalik arah setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Jaga daya beli

Saat dimintai pandangannya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani meminta pemerintah menjaga daya beli masyarakat di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat.

Ia berharap pemerintah bisa membuat kebijakan yang berdampak langsung dalam menjaga daya beli masyarakat, mengingat konsumsi domestik masih menopang pertumbuhan ekonomi.

"Konsumsi domestik kita (kontribusinya terhadap pertumbuhan) kurang lebih 55%, itu saja sudah 3% dari pertumbuhan. Sementara itu, investasi dan ekspor cukup challenging. Jadi, yang memang perlu dijaga ialah konsumsi domestik, daya beli masyarakat," kata Rosan seusai menghadiri Rakornas Kadin di Jakarta, kemarin.

Kalangan pengusaha, sambungnya, sebetulnya sudah memprediksi bahwa tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar 5% karena perekonomian dunia yang juga melambat, serta koreksi angka pertumbuhan ekonomi oleh IMF dan Bank Dunia.

Menurut dia, posisi Indonesia yang bukan bagian dari global value chain membuat laju perlambatan ekonomi yang dialami tidak terlalu terpuruk. Berbeda dengan negara-negara lain seperti India, Tiongkok, dan Singapura.

Di tengah perlambatan itu, pengusaha juga cenderung menahan diri untuk berekspansi karena permintaan sedang melemah. (Hld/Ant/E-2)

BERITA TERKAIT