06 November 2019, 04:00 WIB

Mencegah Isap Madu Punah


MI | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Diskusi selamatkan burung isap madu dalam memeringati hari cintapuspa dan tanaman nasional 2019 di bandung 

BURUNG berbadan kecil dengan bulu berwarna-warni itu dikenal dengan nama isap madu, kepodang, atau tui. Saat ini, warga di Tanah Air menjadikannya sebagai burung kicau dan dipelihara di dalam kandang.

"Padahal, burung isap madu termasuk hewan yang dilindungi. Ketidaktahuan warga ini mengancam ekosistem karena isap madu berperan dalam proses penyerbukan alami tanaman di hutan," papar kurator Bandung Zoo Panji Ahmad Fauzan, di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Dalam diskusi yang digelar Kelompok Kerja Wartawan Gedung Sate itu, Panji mengakui isap madu masih dipeli-hara secara bebas. Bahkan, sejumlah lomba kicau resmi pun mempertandingkannya.

Pemerintah, lanjut dia, telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 7/1999 yang memasukkan isap madu seba-gai satwa dilindungi. "Ada sanksi tegas terhadap para pelanggarnya, baik pidana maupun denda."

Meski populasinya belum terancam punah, isap madu masuk kategori dilindungi karena perannya yang sangat penting dalam menjaga ekosistem alam. Burung ini memiliki paruh yang panjang untuk mengisap nektar sehingga menjadi media yang baik dalam penyebaran pohon berbunga di hutan tropis.

Pejabat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Sanggara Yudha, mengimbau warga tidak menangkap burung dari alam liar. "Lakukan penangkaran sebagai pengembangbiakan secara terkontrol."

Dari Sumatra Utara, pencu-rian kayu masih terjadi di hutan reboisasi di wilayah Desa Simpangbolon, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara. Pelakunya diduga melibatkan petugas dinas kehutanan.

"Masyarakat menolak pe-nebangan kayu di hutan reboisasi itu karena tidak ingin kampungnya terkena bencana alam. Namun, saya justru mendapat penolakan penghentian penebangan dari pejabat dinas kehutanan," ungkap anggota DPRD, Jason Pasaribu.

Hutan reboisasi yang terancam penebangan itu mencapai luasan 250 hektare. Dalam penebangan itu, warga tidak dilibatkan meski sebagian lahan itu merupakan hutan adat.

Di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, warga juga memprotes pembabatan hutan bakau di Kampung Menjaga, Desa Macantanggar, Kecamatan Komodo. Pelakunya investor yang hendak membangun hotel di lahan itu. "Pembabatan sudah terjadi pada lahan bakau seluas 4 hektare. Kami khawatir itu bisa berdampak bencana bagi warga," ujar Kepala Dusun Menjaga, Muhamad Tohir. (BY/JH/JL/N-2)

BERITA TERKAIT