05 November 2019, 14:32 WIB

Kasus Mafia Migas, KPK Periksa Mantan Bos Petral


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Juru bicara KPK Febri Diansyah

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa bekas Direktur Utama Pertamina Energy Services Pte Ltd (Petral) Bambang Irianto dalam kasus mafia migas yang disidik komisi. Bambang merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Petral.

"BTO (Bambang Irianto) diperiksa sebagai tersangka," kata juru bicara KPK Febri Diansyah, Selasa (5/11).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Bambang masih menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK. Bambang yang juga pernah menjabat Managing Director Petral diduga melakukan kongkalikong untuk memuluskan pengadaan impor minyak kepada perusahaan tertentu dengan harga tinggi.

Ia disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dia diduga telah menerima uang senilai US$2,9 juta pada periode 2010-2013. Suap diduga sebagai imbalan bantuan yang diberikan Bambang kepada pihak Kernel Oil terkait dengan kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada Pertamina Energy Service (PES) Pte Ltd di Singapura.

Penyelidikan kasus tersebut dimulai sejak 2014. Penaikan status perkara ke penyidikan baru diumumkan September lalu. Proses itu memakan waktu lama lantaran informasi dan data yang dibutuhkan tersebar di negara-negara lain. Terlebih, perusahaan cangkang yang didirikan Bambang untuk menampung uang berada di negara bebas pajak (tax haven country).

Petral dibubarkan pada Mei 2015 lalu. Pembubaran dilakukan karena diyakini terdapat praktek mafia migas dalam perdagangan minyak yang ditugaskan keppada anak perusahaan PT Pertamina Persero, termasuk Petral dan PES.

Kemudian Pertamina menunjuk perusahaan Kordhamentha untuk melakukan audit forensik pembelian minyak di Petral periode 2012-2014. Dalam hasil laporan itu menyebut harga beli minyak menjadi mahal karena adanya intervensi pihak ketiga.

Lembaga audit asal Australia itu mencatat pada berbagai dokumentasi Petral, adanya pihak ketiga yang bukan bagian dari manejemen Petral dan Pertamina yang ikut intervensi, mulai mengatur tender, membocorkan harga perhitungan sendiri, serta menggunakan karyawan dan manajemen Petral untuk memenangkan kepentingannya.

Selain itu, hasil audit itu muncul indikasi adanya transaksi tidak jelas senilai US$18 miliar dalam transaksi jual beli minyak mentah dan BBM di Petral. (Dhk/OL-09)

BERITA TERKAIT