05 November 2019, 03:20 WIB

Bersiasat dengan Algoritma Baru Mbah Google


Galih Agus Saputra | Weekend

Dok. Google
 Dok. Google
Para pemasar daring perlu bersiasat untuk mengakomodasi perubahan algoritma Google.

Google baru-baru ini merilis algoritma Bidirectional Encoder Representations from Transformers (BERT), yang diklaim akan meningkatkan pengalaman para pengguna mesin peramban tersebut. Nah, buat para pelaku ekonomi yang aktivitasnya berkelindan dengan strategi search engine optimalization (SEO), terutama terkait pemasaran produk, perubahan algoritma itu tentu menjadi tantangan tersendiri.

Menurut salah satu pakar SEO global, Neil Patel, perubahan yang dihadirkan oleh pembaruan algoritma Google tersebut perlu diikuti dengan perubahan strategi SEO.

"Dari apa yang kami lihat, BERT terutama memengaruhi kata kunci saluran teratas, yang merupakan kata kunci terkait (pencarian) informasi. Sekarang jika Anda ingin tidak hanya mempertahankan peringkat Anda tetapi melahap pesaing Anda, solusi sederhana adalah untuk menjadi sangat spesifik dengan konten Anda," tulisnya dalam blog pribadinya, www.neilpatel.com.

Selain itu, imbuhnya, para pemasar sebaiknya berhenti fokus pada teknik keyword density --perbandingan jumlah kata kunci dengan total jumlah kata pada konten Anda. Keyword density, disebut Patel, akan menjadi kurang penting di masa depan karena Google lebih memahami konteks konten yang Anda unggah.

"Jadi, di mana peluangnya? Seperti yang saya sebutkan, ini terkait dengan pembuatan konten yang sangat spesifik di sekitar suatu topik."

Soal spesifikasi konten itu diamini praktisi bidang teknologi informasi Yoga Guritno. Kalau sebelumnya banyak pengembang yang sudah mapan dengan kata kunci tunggal (main keyword), sekarang ini mereka dituntut untuk memikirkan bagaimana aspek konseptualnya. Pengembang harus dapat menelaah konteks yang berangkat dari keterhubungan kata dalam menyajikan informasi.

"Beruntungnya, kalau saya sendiri, BERT ini baru diterapkan dalam pencarian bahasa Inggris. Jadi kita masih bisa belajar, mengintip-intip apa yang hendak dilakukan Google. Mereka selalu melakukan perubahan sedikit demi sedikit, dan sudah memberikan clue bahwa mereka akan bergerak ke arah kontekstual. Jadi dari situ juga, saya pikir, istilah 'content is a king' itu benar-benar akan muncul kembali," tutur Yoga.

Pria yang kini menjabat sebagai Head of Website and Content Halodoc itu juga mengatakan bahwa pada dasarnya Google ingin membuat konten daring ramah manusia. Google sedikit demi sedikit ingin merubah paradigma bahwa konten tidak  dibaca melalui algoritma, namun sebaliknya dengan pendekatan humanis.

Hal itu, secara sederhana, kata Yoga dapat dipahami melalui konten yang dewasa ini mudah sekali menjadi tren (viral) di dunia maya. Fenomena demikian, lambat laun akan hilang karena Google ingin konten dibaca berdasarkan human logic (logika manusia). Kualitas konten menjadi tolok ukur utama bagaimana Google membangun sistemnya.

Sementara itu, ia sendiri dalam membangun sistem Halodoc juga sudah lama mengedepankan paradigma manusia (human first). Apalagi sistem yang ia kembangkan berhubungan dengan layanan kesehatan sehingga harus mengedepankan kualitas dan kepercayaan  (human trust).

"Saya selalu berpegang pada keyakinan bahwa Google itu ialah suatu mesin yang berusaha menjadi manusia ketimbang menjadi robotnya. Nah, yang robot saja ingin menjadi manusia, kenapa kita yang manusia harus menjadi robot?" imbuh Yoga.

Berangkat dari pemahaman itu, Yoga selanjutnya juga mengaku setuju bahwa dalam membuat konten, orang tidak harus menulis untuk robot. Sebaliknya, unsur humanis harus dikedepankan agar ia dapat menjawab kebutuhan manusia.

Selain itu, Yoga juga mengapresiasi bagaimana Google membentuk sistem yang membantu menganalisis bahasa. Hal itu, dirasa akan sangat membantu pembaca untuk memahami berbagai macam istilah, khususnya dalam kesehatan, yang dewasa ini belum memiliki serapannya dalam Bahasa Indonesia. Sistem demikian juga dipercaya dapat menguntungkan pengembang lokal, yang kontennya dapat dikenal masyarakat seluruh dunia, karena dapat dibaca dengan berbagai macam bahasa.

Yoga mengatakan tantangan yang cukup kompleks justru terletak pada sejumlah fitur yang ditawarkan Google. Persoalan ini cukup problematis karena di satu sisi turut memperlemah SEO yang dibangun para pengembang, namun di sisi lain juga tidak akan memicu masalah jika pengembang berpegang pada kualitas.

Fitur pada dasarnya memberikan pengalaman pengguna (user experience). Ia menawarkan sejumlah atraksi terkait pengalaman membaca, yang tentunya menjadi keuntungan besar bagi pengembang jika sistem maupun konten yang dibangun dapat tampil di sana.

Namun demikian, Yoga juga mengatakan bahwa dalam sistem baru tersebut, rasanya tidak mungkin lagi ada satu index yang dapat bertengger dalam sebuah pencarian. Sebab, lanjut Yoga, setelah beralih dari RankBrain ke BERT, Google hanya akan menampilkan satu indeks dengan konteks tertentu berdasarkan kualitas.

"Kalau dulu mungkin dalam satu pencarian dapat muncul beberapa website di halaman Google. Nah, ini pelan-pelan mulai dihilangkan jadi hanya muncul satu. Memang untuk beberapa kategori saat ini belum terdampak, tetapi selama ini Google crawling terus sehingga nantinya yang benar-benar muncul hanya satu," terang Yoga.

Menyikapi hal tersebut, Yoga selanjutnya mengatakan bahwa para pengembang yang selama ini bermain dengan keyword tidak perlu khawatir. Sebab, jika kontennya berkualitas, ia akan tetap bertengger di pencarian teratas. Apalagi, untuk konten kesehatan, ia akan tetap menjadi sorotan apalagi kalau isinya dapat dipercaya, atau misalnya, telah berulangkali diulas oleh para ahli termasuk dokter. (M-2)

BERITA TERKAIT