05 November 2019, 02:40 WIB

Pedemo Dukung Presiden Libanon


MI | Internasional

AFP
 AFP
Unjuk rasa di Libanon

RIBUAN warga Libanon menggelar aksi protes, Minggu (3/11), untuk mempertahankan gerakan jalanan nasional yang telah menjatuhkan pemerintah, beberapa jam setelah pawai yang mendukung presiden yang sedang diperangi.

Demonstrasi lintas sektarian yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mencengkeram Libanon sejak 17 Oktober, menuntut perombakan total sistem politik yang dianggap tidak efisien dan korup.

Pada Minggu malam, ribuan pengunjuk rasa berduyun-duyun ke alun-alun mengibarkan bendera Libanon dan mengusung slogan-slogan yang mereka tulis di atas kardus, kata seorang koresponden AFP.

"Revolusi," teriak mereka di Alun-Alun Martyrs'. Mereka menyerukan agar para pemimpin politik dari semua kelompok sektarian untuk mundur.

Abir Murad, 37, datang khusus dari kota utara Tripoli untuk ambil bagian. "Kita semua bersatu melawan para pemimpin yang tidak mengubah apa pun di negara ini," ujarnya. "Kami datang untuk mengatakan perubahan sekarang ada di tangan rakyat."

Berbalut kain putih, tiga demonstran memperagakan lakon keluhan-keluhan yang mendorong mereka turun ke jalan. Mereka memegang plakat yang merujuk pada korupsi, sektarianisme, dan perang saudara 1975-1990.

Para pengunjuk rasa di ibu kota berteriak mendukung wilayah mayoritas Syiah, seperti Tyre, kubu kuat gerakan Hizbullah yang kuat, yang telah mendesak para pendukungnya untuk tidak memprotes.

"Tyre, Tyre, Tyre. Kami bangkit untukmu," teriak mereka.

Terlepas dari peringatan Hizbullah, protes juga terjadi di kota selatan, kata pemberitaan National News Agency dan di televisi.

Orang-orang juga turun ke jalan di Sidon yang mayoritas penduduk Sunni dan Kota Tripoli di utara.

Blokade pengunjuk rasa dihilangkan dan bank-bank dibuka kembali setelah pemerintah mengundurkan diri, Selasa lalu.

Namun, para pengunjuk rasa bersumpah untuk melanjutkan gerakan jalanan sampai semua tuntutan mereka dipenuhi, termasuk pemerintah baru memasukkan para teknokrat independen.

Seorang pengunjuk rasa perempuan di Tripoli, yang mengidentifikasi dirinya sebagai Najwa, mengatakan masih sangat tidak jelas apakah susunan kabinet baru akan benar-benar berbeda. "Tidak ada transparansi," ujarnya. "Skenario yang mungkin kita dengar melalui rumor tidak terlalu menggembirakan," tandasnya. (AFP/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT