04 November 2019, 20:38 WIB

Ini Lo Sebabnya Mbah Google jadi Makin Pintar


Galih Agus Saputra | Weekend

AFP/ALASTAIR PIKE
 AFP/ALASTAIR PIKE
BERT ialah terobosan terbesar Google sejak RankBrain yang dirilisnya 5 tahun silam.

Selama ini, pernahkah sejenak terpikir oleh Anda bagaimana lalu lintas (traffic) di dunia maya berlangsung setiap harinya? Berapa jumlah pengguna daring, termasuk anda, yang selalu tampak fokus dengan perangkat elektronik, mulai dari gawai hingga komputer rumahannya? Apa saja yang dicari? Dan, kata, bahasa, atau frasa apa saja yang muncul dalam pikiran para pengguna di seluruh dunia ketika mulai berseluncur dengan jemarinya?

Google sebagai penyedia layanan mesin peramban (search engine) barangkali boleh dikata pasti punya jawabannya.

Raksasa teknologi multinasional itu mengaku bahwa setiap hari ada miliaran pengguna yang selalu aktif melakukan pencarian lewat lamannya. Lebih dari itu, kala memperingati 'Hari Internet Internasional 2019' di Kantor Google Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta, Public Liaison for Search Google, Danny Sullivan mengatakan bahwa dewasa ini kiranya setiap hari ada 15% pengguna yang selalu melakukan pencarian baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya (unique).

Kebanyakan pengguna, menurut Danny, terkadang juga hadir untuk mengikuti isu yang sedang hangat diperbincangkan di sekitarnya bersama milliaran kata kunci (keywords), yang tentu pula berangkat dari berbagai macam bahasa yang ada di seluruh penjuru dunia. Namun, sayangnya, hingga saat ini, kata Danny, belum ada sistem atau mesin pencarian yang benar-benar dapat memahami semua hal yang dimaksud pengguna.

"Sebagai contoh, misalnya, ketika seseorang melakukan pencarian dengan kata kunci 'greenish brown, dress, dan shoes', kami berpikir apakah yang dia maksud adalah sepatu yang biasa dipakai sehari-hari dengan warna cokelat kehijauan, atau apakah ia menginginkan sepatu cokelat kehijauan bersama gaun. Ini tentu sedikit membingungkan," tuturnya, Selasa (29/10).

Maka dari itu, lanjut Danny, Google dewasa ini selalu berusaha memperbaiki diri dan melakukan pengembangan agar dapat memberikan mesin pencarian paling mutakhir bagi pengguna. Semua pengembangan dilalui dengan serangkaian evaluasi maupun uji coba yang sangat ketat, mulai dari 595.429 tes kualitas pencarian (search quality test), 44.155 eksperimen perbandingan (side-by-side experiments), 15.096 eksperimen live traffic, dan 3.234 peluncuran (launches).

Usai melewati semua itu, Google akhirnya berhasil mengembangkan sistem algoritma terbaru yang kemudian diberi nama 'Bidirectional Encoder Representations from Transformers (BERT)'. Terobosan ini menjadi salah satu perubahan terbesar, sejak perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat itu memperkenalkan RankBrain lebih dari lima tahun lalu.

Menurut, Danny, BERT merupakan teknik baru yang diterapkan Google untuk menyediakan informasi. Sistem ini sebenarnya sudah dimiliki sejak tahun lalu namun baru diaplikasikan secara global saat ini. Tak seperti dulu ketika mesin hanya dapat memahami pencarian berbasis kata, BERT memahami konteks yang ditelusuri berdasarkan keterhubungan antarkata yang dituliskan pengguna.

Selain itu, BERT juga dapat memahami satu dari 10 pencarian dalam Bahasa Inggris. Pada kesempatan selanjutnya, kemampuan itu juga akan dikembangkan dalam 25 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia yang menurut Danny akan dilakukan dalam waktu dekat.

Bahasa
BERT sendiri ialah sistem yang dikembangkan Google melalui teknik open source berbasis jaringan neural alami untuk bahasa (natural language processing/NLP).

Keunggulan lain yang dapat diperoleh dari sistem ini adalah kemampuannya untuk menganalisis bahasa. Google dapat membuat model penyempurnaan dari bahasa Inggris (yang sebagian besar digunakan pada konten daring) dan menerapkannya ke bahasa lain.

"Ini membantu kami menyajikan hasil yang lebih relevan dalam berbagai bahasa yang ditawarkan oleh Google Search, termasuk Bahasa Indonesia," imbuh Danny.

Namun, demikian, relevansi itu sendiri tampaknya bukanlah satu-satunya kemajuan yang ditawarkan Google.

Dalam keterangan tertulisnya, Search Google Fellow and Vice President, Pandu Nayak menjelaskan bahwa beberapa model yang digunakan untuk membangun BERT menuntut kompleksitas yang cukup tinggi, sehingga mendorong tim untuk dapat melakukan perubahan terhadap perangkat keras (hardware) yang dimilikinya. Maka dari itu, Google kemudian memilih untuk mengembangkan dan menggunakan superkomputer terbaru yaitu Cloud TPU v3 Pods.

Cloud TPU v3 Pods dibangun secara khusus untuk pembelajaran mesin (manchine learning) telah diuji coba dan menunjukan peforma yang cukup memuaskan.  Hasil uji kecepatan pada masing-masing bagian menunjukan waktu komputasi kurang dari dua menit.

"Jadi kini untuk pertama kalinya kami menggunakan Cloud TPU terbaru agar dapat menyajikan hasil pencarian dan memberi Anda informasi yang lebih relevan dengan sangat cepat," imbuh Pandu.

Google kini juga hadir dengan beberapa fitur terbaru yang didasarkan pada keberagaman bentuk informasi pada satu waktu menuntut suatu revolusi bentuk laman. Google tidak ingin hanya menampilkan daftar tautan laman daring, atau sebaliknya ia ingin menawarkan kemudahan melalui fitur yang bermanfaat.

Adapun sejumlah fitur tersebut berupa Info Panel (Panel Info), Google Autocomplete (Pelengkapan Otomatis), Selection Snippet (Cuplikan Pilihan), Rich List (Daftar Pencarian Teratas), Discover (Penelusuran), dan Petunjuk Arah & Lalu Lintas. Seluruhnya memiliki keunggulannya masing-masing, yang tentunya sejurus dengan visi Google untuk selalu berusaha memberikan kemudahan, kejelasan, dan kecepatan dalam setiap pencarian. (M-2)

 

BERITA TERKAIT