04 November 2019, 18:52 WIB

Peringkat Kebebasan Ekonomi Indonesia Naik


Hilda Julaika | Ekonomi

Dok  The Indonesian Institute
 Dok The Indonesian Institute
M. Rifki Fadilah

PERINGKAT kebebasan ekonomi Indonesia merangkak naik ke urutan 54 dari 162. Mengacu pada laporan Fraser Institue, sebelumnya Indonesia berada di urutan 62 dunia pada 2018.

Berdasarkan laporan akhir tahun yang dibuat oleh The Indonesian Institute, peningkatan ini didasarkan oleh beberapa faktor. Namun, pada faktor daya saing, Indonesia masih memiliki rapor merah.

Peneliti The Indonesian Institute M. Rifki Fadilah mengatakan, kebebasan ekonomi ditandai oleh kekuatan perlindungan atas hak milik pribadi, tarif pajak yang rendah, iklim usaha yang sehat, stabilitas ekonomi, serta keterbukaan terhadap arus perdagangan global. Ia pun menambahkan, pada kebebasan ekonomi memperlihatkan peran dari sektor swasta dibandingkan dengan pemerintah.

“Negara yang memiliki tingkat kebebasan ekonomi yang tinggi maka negara tersebut memiliki kebabasan yang baik untuk masuk dan bersaing dalam pasar global,” paparnya kepada Media Indonesia, Senin (4/11)

 

Baca juga: Penaikan UMP Tiap Tahun Bisa Jadi Bumerang

 

 

Rifki lebih lanjut menguraikan indikator-indikator yang membuat peringkat Indonesia melonjak. Pertama, sektor konsumsi rumah tangga menunjukkan dominasi yang cukup besar dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah. Dari sisi investasi pemerintah, BUMN mendominasi setiap proyek infrastruktur pemerintah.

Kedua, komitmen pemerintah untuk menghormati dan melindungi hak kepemilikan individu. Ketiga, keberhasilan pemerintah menjaga tingkat inflasi tahun ini berada pada tingkat yang aman atau di bawah 3,5 persen.

Lalu yang keempat, adanya reformasi peraturan untuk mempertahankan daya saing pasar domestic. Serta beberapa insentif pajak kepada eksportir dan mendorong investasi asing melalui Open Single Submission (OSS).

Kelima, dari regulasi pasar kredit, pertumbuhan kredit perlahan turun khususnya pada akhir paruh pertama 2019. Sementara itu, dari pasar tenaga kerja, dalam 5 tahun belakangan, tingkat pengangguran mampu berada di kisaran 5%. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan mengenai inklusivitas pasar tenaga kerja, khususnya bagi para penyandang disabilitas. (OL-8)

BERITA TERKAIT