05 November 2019, 00:20 WIB

Mondo Gascaro Musik Butuh Dialektika dan Wacana


Fathurrozak | Hiburan

MI/Sumaryanto Bronto
 MI/Sumaryanto Bronto
Musikus Mondo Gascaro

MUSIKUS Mondo Gascaro, 44, menyebutkan saat ini industri musik memerlukan dialektika sebagai salah satu cara mendiskusikan karya secara kritis. Pada era yang memudahkan audiens mendengarkan musik, Mondo Gascaro yang bernama asli Gascaro Ramondo, beranggapan justru saat ini musik kehilangan daya kritis dan kering akan dialektika dari wacana yang terbangun.

"Kalau dulu, ada industri yang business minded banget, sedangkan ada seniman yang juga berusaha tetap membuat karya yang baik, tapi terkadang juga harus berkompromi sehingga ada tarik ulur," ujar Mondo saat berkunjung ke redaksi Media Indonesia pada Rabu (30/10).

Saat ini, ujar Mondo, musik yang didistribusikan dengan mudah melalui berbagai kanal digital justru mengubah cara musisi dan pendengarnya menikmati musik. Menurut penggemar Efek Rumah Kaca tersebut, secara iklim industri hal tersebut membuat industri musik semakin tidak murni.

"Kita berada di era yang 'katanya' bebas, pemusik bisa bikin musiknya sendiri, pendengar bisa dengerin yang mereka suka, tetapi tidak demikian. Pemusik tersandera oleh kepentingan di luar musik. Sekarang pemusik mengerti bisnis yang mana itu bagus, tetapi terkadang lupa bahwa kita ini musisi, apa yang mau kita omongin?" tukas pria berdarah Jepang tersebut.

Pengisi soundtrack film Kucumbu Tubuh Indahku itu melanjutkan, kerap kali pemusik kini belum tahu sesuatu yang akan dibicarakan, tapi sudah riuh dengan berbagai gimik pemasaran. Menurutnya, hal ini menjadi langkah mundur. Pola kanal digital yang juga menyajikan algoritme berdampak pada pola pendengar menikmati karya.

Salah satu yang juga mengalami kekosongan menurut eks personel Sore itu ialah ketiadaan kuratorial sehingga kerap kali karya menjadi sebatas lewat dan tidak ada diskursus. "Ini sih momen terparah dalam industri atau kehidupan bermusik kita. Musik itu selera memang, kita semua tahu itu. Namun, sekarang jadinya enggak ada filter. Menganggap semua yang keluar di kanal dengar digital sama bagusnya. Tidak ada wasitnya, tidak ada kuratorial. Apa yang mau didiskusikan? Seharusnya bisa didiskusikan karena itu bagian dari memunculkan wacana," lanjut suami Sarah Glandosch itu.

 

Spirit era keemasan

Mondo yang kini bersolo karier belum lama merilis lagu tunggal (single) Dian Asmara. Ia berduet bersama penyanyi jaz legendaris, Rien Djamain. Dian Asmara ia tujukan sebagai tribut untuk Rien, sekaligus merayakan karya-karya era 1970-an, termasuk album milik Rien, Api Asmara.

"Era itu, secara umum ialah era dimulainya kejayaan musik. Waktu zaman 1970-an, banyak musik-musik Indonesia, musik pop didominasi rilisan cengeng. Beberapa musikus, seperti Yockie, Jack Lesmana, pada saat yang sama, mereka juga membuka eksplorasi lagu. Bagaimana musik pop Indonesia lewat Api Asmara, misalnya, ialah medium untuk mempopulerkan jaz ke ranah yang lebih luas. Ini jadi salah satu momentum penting dalam sejarah musik Indonesia. Saya mencoba mengapresiasi dan merayakannya," lanjut pemilik album Rajakelana itu.

Oleh sebab itu, Dian Asmara yang perdana dibawakan Mondo bersama Rien saat tampil di Synchronize Fest 2019, merupakan cara untuk menangkap spiritnya. "Ada kerinduan akan spirit itu. Musik menjadi sarana yang lebih untuk merayakan sesuatu, yang membebaskan, untuk bereksplorasi dari kungkungan industri seperti sekarang. Mungkin dulu sudah ada. Tapi datang dari ranah yang berbeda, yaitu jaz. Bikin pop dengan aransemen jaz dan bahkan, disisipi karya instrumental. Dobrakan itu yang dirindukan," ujar MOndo yang pernah membuat musik untuk film Berbagi Suami (2006), Quickie Express (2007), Pintu Terlarang (2008), dan Hello Goodbye (2012).

Mondo beranggapan, dengan membuka ruang-ruang diskusi, termasuk sesama musikus akan memunculkan kesadaran baru dan sadar akan kondisi yang ada sehingga tidak membuat musisi terlena dengan keadaan. (H-3)

BERITA TERKAIT