04 November 2019, 16:00 WIB

Mendengar Musik Imajinatif Era Ini di Pekan Komponis Indonesia


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/ Fetry Wuryasti
 MI/ Fetry Wuryasti
Konfrensi pers gelaran Pekan Komponis Indonesia 2019 di Jakarta, Minggu (3/11).

SEJAK Minggu (3/11), ajang Pekan Komponis Indonesia 2019 digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Akan berlangsung hingga Rabu (6/11), program tahunan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta ini menghadirkan 11 komponis dari beberapa negara, termasuk Thailand dan Malaysia.

Ketua Komite Musik DKJ, Anto Hoed mengatakan kehadiran para komponis dari luar negeri itu agar para komponis dari beberapa generasi dapat saling bertemu dan bertukan pikiran dalam mengembangkan karya-karya mereka serta membangun jaringan ke berbagai kegiatan musik di dunia.

"Awalnya ada 30 komponis dengan karyanya yang masuk, kemudian dikurasi menjadi 11 komponis. Tentu ada dasar objektivitas para kurator terhadap satu dua komposisi yang dipilih," ujar Anto Hoed di Jakarta, Minggu malam (3/11).

Anto berharap para koponis muda dapat mengembangkan diri dan kualitas musiknya. Program ini harus menjadikan karya komponis Indonesia juga dapat menjadi referensi dan memengaruhi karya komponis luar negeri.

Hal serupa dikatakan oleh Kurator dari Malaysia Chong Kee Yong. Ia menilai sangat penting untuk memberi kesempatan bagi komponis muda.

"Kita butuh platform, sebab mayoritas anak muda sangat tapi tidak mengerti bagaimana untuk showcasenya. Event seperti ini bisa menunjukkan ke dunia kalau kita punya komponis-komponis muda berbakat dan berkualitas tinggi. Dari sini akan membuka pintu mereka bertemu dan berkembang bersama mendapatkan pengakuan hingga beasiswa dari institusi di luar luar negeri," tukas Chong Kee Yong.

Sementara Kurator dari Thailand Jiradej Setabundhu mengatakan jika komposisi musik yang terseleksi menunjukkan pula imajinasi dan kreativitas musik era ini.

"Kami menseleksi musik-musik yang paling imajinatif. Sesuatu yang paling penting. Teknik hanya sebagai alat mensupport imajinasi mencapai tujuan," jelas Setabundhu.

Lebih lanjut, Anto berharap komponis-komponis muda Indonesia dapat melangkah Iebih jauh dari tahun sebelumnya. "Menunggu karya-karya yang lebih berkualias tinggi dan fenomenal sehingga dapat membawa kita terbang Iebih tinggi dan dapat menjadi bahan kontempelasi komponis-komponis dari luar Indonesia. Semoga harapan ini menjadi kenyataan,".

Bergulir pertama kali ditahun 1979 dengan nama Pekan Komponis Muda,
Pekan Komponis Indonesia memang bermaksud untuk membuka kesempatan bagi para komponis muda, pelaku seni, dan publik untuk saling terhubung dalam sebuah forum dialog diskusi, selain tentunya menampilkan karya di panggung. Program ini pun merupakan sebuah upaya pencarian musik atau bunyi baru yang menunjukan kemajuan musik saat ini. (M-1)

BERITA TERKAIT