04 November 2019, 13:40 WIB

Mengubah Panas Jalanan Menjadi Listrik


Bintang Krisanti | Weekend

MI/ Bintang Krisanti
 MI/ Bintang Krisanti
Lukman Ali (kiri) dan Alexander saat menunjukkan karya ilmiah mereka di Indonesia Science Expo 2019.

SUHU panas yang melanda Indonesia belakangan ini cukup membuat masyarakat resah. Aktivitas di luar ruangan memang terasa lebih menyiksa, terlebih jika di area minim pepohonan, termasuk di jalan raya dan bebas hambatan.

Namun, sebenarnya dua hal tadi, yakni panas dan jalanan, jika digabungkan bisa membawa manfaat besar. Panas yang dipanen dari jalanan dapat menjadi sumber energi listrik.

Itulah yang menjadi gagasan inovasi Alexander, siswa SMA Global Prestasi, di ajang National Young Inventors Award (NYIA) 2019 yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Alexander dan 49 finalis lain menampilkan inovasi-inovasi mereka di acara Indonesia Science Expo 2019 yang berlangsung 23-26 Oktober di ICE, BSD City, Tangerang.

Dalam inovasi berjudul Permukaan Jalan Penghasil Listrik itu, Alexander menampilkan sebidang jalan yang terbuat dari beton dan di bagian dalamnya disusun pipa tembaga. Ke dalam pipa tembaga kemudian paraffin. Minyak inilah yang berguna menyerap kalor (energi panas) dari permukaan jalan.

Minyak tersebut kemudian dialirkan ke sebuah waterblock yang menempel ke sebuah modul termoelektrik. Bagian lain dari modul termoelektrik yang tidak menempel pada waterblock akan ditempel ke heatsink yang didinginkan air. Perbedaan suhu yang tercipta dari energi panas yang dihantarkan minyak paraffin dengan heatsink itulah yang menghasilkan listrik.

"Idenya ini tercipta karena saya pernah melihat inovasi seperti ini di luar negeri. Tapi jalanan itu pakai panel surya, pakai kaca. Jadi bisa cepat rusak kalau dilalui kendaraan. Jadi terpikir kenapa tidak jalanan biasa saja yang dipasangi pipa tembaga," tutur Alexander kepada Media Indonesia, Rabu (23/10).

Siswa kelas 2 SMA itu mengandaikan inovasinya bisa diterapkan ke jalan-jalan bebas hambatan yang terbuat dari beton. "Karena kalau beton kan dibuatnya memang ada struktur besinya, jadi pipa ini bisa dipasang di situ," tambahnya.

Sementara itu, untuk penempatan unit media air sebagai pendingin heatsink, menurutnya, dapat dibuat berupa bangunan atau unit kecil di beberapa titik di tepi jalan. Di kondisi jalanan yang bersisian dengan sungai, pendinginan itu bisa memanfaatkan badan air tersebut.

Inovasi tersebut telah dicobakan di bawah cuaca terik selama beberapa saat hingga mendapatkan suhu permukaan jalanan 40 derajat celsius. "Saat itu dihasilkan listrik 5 volt dengan arus 350 miliampere," tambah Alexander.

Ketua LIPI, Laksana Tri Handoko, yang kebetulan saat itu tengah berkeliling meninjau inovasi-inovasi dari para panelis pun tampak tertarik dengan penilitian Alexander. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, ia menilai penelitian tersebut cukup menarik.

"Saya tidak bisa katakan penelitian mana yang paling bagus di antara semuanya. Tapi saya bangga dengan semuanya. Mereka bisa menghasilkan inovasi yang memang relevan dengan kondisi sehari-hari," kata Tri Handoko. Ia mengatkan LIPI akan membantu penelitian yang terpilih untuk mendapat hak paten sederhana.

LKIR 2019

Dalam pameran tersebut juga tampil para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2019 yang juga diselenggarakan LIPI. Salah satunya ialah karya berupa bahan penahan air untuk tanaman perkebunan dan pertanian dari Lukman Ali. Karya ilmiahnya berjudul Sabacang (Super Absorben Polimer Limbah Kulit Jeruk Bali dan Kacang Tanah) sebagai Rservoir Mengatasi Kekeringan Tanah di Musim Kemarau.

Lukman menjelaskan cara pembuatan absorben itu cuku sederhana, yakni hanya dengan menghaluskan sampah kulit jeruk dan kacang tanah dengan menggunakan blender. Setelah ditambahkan air sebanyak 250 mililiter, campuran itu direbus selama 30 menit dan kemudian dijemur hingga kering.

"Selanjutnya tinggal ditaburkan saja di sekitar tanaman," ujarnya. Lewat percobaan selama empat minggu, didapatkan campuran terbaik kulit jeruk dan kacang tanah adalah 10:1. Campuran tersebut mampu menyerap air sebesar 793,5%. "Sebenarnya dipasaran juga sudah ada bahan absorben, tapi harganya cukup lumayan, kalau dengan bahan-bahan limbah ini petani dapat membuat sendiri tanpa harus mengeluarkan uang banyak," tutur pemuda asal Cisarua, Jawa Barat.

Menurutnya, ide tersebut ia dapatkan dari banyaknya perkebunan jeruk bali di wilayahnya. Beberapa jeruk bali yang kurang baik kualitasnya kerap tidak dimanfaatkan. Dari situlah tercetus ide untuk pemanfaatannya. Lukman berharap karya ilmiah itu dapat membantu para petani di berbagai wilayah di Indonesia. (Big/M-4)

BERITA TERKAIT