03 November 2019, 21:20 WIB

Tiongkok Siap Bekerja dengan ASEAN mengenai LCS


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Perdana Menteri China Li Keqiang

TIONGKOK mengatakan, Minggu (3/11), pihak mereka siap untuk bekerja dengan negara-negara Asia Tenggara untuk menyelesaikan kode etik Laut China Selatan (LCS). Beijing dituding mengintimidasi dan membangun instalasi militer di salah satu titik didih sengketa antara sejumlah negara ASEAN dan Beijing.

Tiongkok mengklaim sebagian besar LCS, jalur air yang kaya sumber daya dan rute pelayaran global utama. Kawasan itu telah lama menjadi sumber ketegangan di antara para pengklaim di Asia Tenggara.

ASEAN, yang beranggotakan 10 negara, telah terkunci dalam pembicaraan kode etik di LCS,tempat Tiongkok dituduh mengerahkan kapal perang, mempersenjatai pos-pos terdepan, dan merusak kapal penangkap ikan.

Perjanjian, yang akan selesai pada 2021, akan menetapkan pedoman pelaksanaan untuk laut bersama dengan parameter resolusi konflik.

Pada Minggu, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan pembacaan pertama dokumen tersebut--kesempatan bagi semua anggota untuk mengomentari rancangan persyaratan--adalah peristiwa yang sangat penting.


Baca juga: PM India Apresiasi Inisiatif Indonesia atas Indo-Pasifik


"Kami siap bekerja dengan negara-negara ASEAN membangun di atas fondasi yang ada dan dasar untuk mengusahakan kemajuan baru pada pedoman tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan Tiongkok ingin menjaga dan menegakkan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di LCS.

Ketegangan berkobar dalam beberapa pekan terakhir antara Tiongkok dan Vietnam, salah satu kritikus vokal Beijing mengenai LCS.

Hanoi membalas Beijing setelah mengirim kapal survei ke perairan di dalam Zona Ekonomi Eksklusif dan di sekitar pulau-pulau yang diklaim oleh Hanoi dan Beijing.

Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei juga memiliki klaim yang tumpang tindih dengan Tiongkok di kawasan itu.

Sementara Amerika Serikat menuduh Tiongkok melakukan perilaku intimidasi di perairan itu. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pekan lalu bahwa AS selama ini telah terlalu enteng terhadap Beijing. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT