03 November 2019, 11:00 WIB

Tidak Pilih-Pilih Makanan


Fetry Wuryasti | WAWANCARA

AFP/Tiziana Fabi
 AFP/Tiziana Fabi
Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo 

TERDAPAT kebiasaan unik di gereja Katolik yang tidak diketahui awam. Masih dalam rangka berbincang dengan Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo di sebuah ruang di Wisma Uskup Agung Jakarta, kami pun sempat mendengarkan cerita terkait dengan apa yang menjadi kebiasaannya.

Ditanya mengenai makanan kesukaan, Kardinal yang juga penulis buku Ecclesiological Implications of the Lucan Last Supper Narrative itu bercerita tidak memiliki kegemaran tertentu. "Kami kan menerima apa pun yang diberikan oleh umat, apa yang dimakan umat, kami akan makan. Jadi apa yang dirasakan umat, kami akan merasakan juga. Sebaiknya memang tidak secara khusus membelikan," katanya.

Ia pun kemudian menjelaskan, ada nasihat yang selalu diingat. Makan tidak boleh pilih-pilih, mentang-mentang suka, maka yang dimakan hanya itu-itu saja. Jika diberikan beberapa pilihan, wajib mencoba. "Sedikit-sedikit tidak apa-apa, tetapi semua dirasakan. Memang ada yang lucu, kalau ditanya, misalnya, romo A sukanya apa, ada yang lain menjawab, sukanya makanan tertentu, padahal itu yang suka dia," katanya tergelak. Ia juga mengaku tidak berpantang makanan tertentu.

 

Memelihara burung

Di waktu luangnya, lelaki kelahiran Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 69 tahun lalu itu, menyempatkan diri untuk berlari di atas treadmill. Selain itu, waktu luang juga digunakan untuk menikmati dan memelihara ayam dan burung. Berbagai macam burung dan ayam ada di tempat itu. Tiak banyak, tetapi kicauannya menambah suasana menjadi seperti hidup di hutan kecil meski sebenarnya di tengah perkotaan.

"Di sana ada ayam ketawa, ada juga ayam mengeram. Dulu, romo-romo yang tinggal di sini, kebanyakan kan berasal dari kota. Mereka tidak tahu seperti apa ayam yang bertelur, mengerami telur, dan menetas menjadi ayam. Mereka tahunya telur atau ayam yang terhidang di meja. Tapi kemudian mereka menjadi terbiasa," ceritanya.

Rupa-rupa burung juga dipelihara. Tidak ada burung yang dibeli, semuanya pemberian. Ada juga burung yang dilindungi yang memiliki sertifikat. "Orang melihat di sini kok ada burung, kemudian ditambah. Jadi tidak ada yang beli."

Anak ketujuh pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora Murni Hardjadisastra itu juga bercerita tentang keberadaan pohon-pohon besar yang ada di Masjid Istiqlal, Monas, dan Katedral. "Pohon-pohon ini ditempati burung untuk beranak pinak, termasuk jalak liar. Ada burung hantu di Katedral juga.

Ia juga bercerita pohon-pohon buah yang besar seperti mangga yang sudah tua tidak mungkin diambil hasilnya karena sangat tinggi dan kebanyakan sudah dimakan burung. (M-4)

BERITA TERKAIT