03 November 2019, 10:20 WIB

Puluhan Tentara Mali Tewas oleh Serangan Teroris


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Tentara Mali sedang berjaga di sebuah gedung yang hancur diserang teroris.

SEDIKITNYA 53 tentara dilaporkan tewas dalam sebuah serangan teroris di sebuah pos militer di bagian timur laut Mali, Afrika Barat, Jumat (1/11).

Serangan itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap militer Mali dalam kekerasan yang dilakukan kelompok militan baru-baru ini.

Menteri Komunikasi Mali, Yaya Sangare, menyebutkan seorang warga sipil lainnya juga dilaporkan tewas di pos terdepan di wilayah Menaka yang berdekatan dengan perbatasan Nigeria.

Yaya mengatakan 10 orang yang selamat ditemukan di pos terdepan dan menderita luka serius.

"Situasinya tidak terkendali. Pencarian dan proses identifikasi mayat terus berlanjut," terang Yaya melalui Twitter.

Serangan mematikan itu juga memicu unjuk rasa di luar sebuah markas militer di ibu kota Bamako.

Sebelumnya, pemerintah Mali mengutuk serangan yang dilakukan para teroris tersebut. Serangan tersebut, sambung juru bicara pemerintah, telah banyak menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan banyak orang lainnya terluka.

"Bala bantuan telah dikirim untuk mengamankan daerah itu dan memburu para penyerang," jelas pernyataan tersebut.

Namun, tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.

Satu bulan sebelumnya, dua serangan telah menewaskan sekitar 40 tentara di dekat perbatasan Mali dengan Burkina Faso. Tentara Mali telah lama berjuang menghadapi pemberontakan kelompok bersenjata yang telah menyebar dari wilayah utara ke pusat negaranya.

Sejauh ini serangan-serangan tersebut telah mencoreng nama pasukan G5 Sahel, yakni sebuah pasukan yang tercipta dari kerja sama lima negara dan beranggotakan 5.000 tentara. Nama Prancis juga tercoreng sebagai negara yang paling berkomitmen untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut.

Wilayah utara Mali dikuasai pemberontak setelah tentara Mali gagal menumpas mereka pada 2012. Operasi militer yang dibantu Prancis berhasil memukul mundur pemberontak pada 2013. Namun, kini milisi pemberontak mulai beraksi kembali di kawasan tengah dan selatan Mali. (AFP/Uca/X-11)

BERITA TERKAIT