03 November 2019, 05:00 WIB

Menyapa Kenangan Menipu Kenyataan


Fathia Nurul Haq | Weekend

MI/FATHIA NURUL HAQ
 MI/FATHIA NURUL HAQ
Pameran seni rupa kontemporer Art Bali 2019.

MENYAMBANGI pameran seni rupa kontemporer Art Bali 2019 yang mengangkat tema Speculative memory, kita akan di­ajak melihat 49 karya seni dari 32 seniman lokal dan mancanegara. Karya-karya itu mengaduk-aduk realitas konvensional menjadi ­konstruksi baru yang spekulatif. Sesuai dengan tema yang diangkat, karya-karya yang dipamerkan hingga 13 Januari 2020 tersebut menyajikan karya seni yang lahir dari memori-memori senimannya yang dikelola dengan pendekatan yang unik dan bisa menipu.

Salah satunya ialah karya bertajuk Weaving the Island karya I Wayan Sudarna Putra berupa labirin yang mengantarkan pengunjung dari pelataran hingga pintu masuk dengan anyaman bambu yang membentuk kepulauan Nusa Tenggara, Bali, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, hingga Papua.

“Pulau dalam karya saya adalah ingatan dari lagu nasional Dari Sabang sampai Merauke yang sejak kecil sering saya dengarkan. Waktu membuatnya pun saya putar-putar terus. Sementara itu, teknik anyaman­nya ini dari akar budaya saya. Masyarakat Bali banyak meng­adopsi berbagai teknik menganyam, contohnya klatak yang digunakan untuk sanggah cucuk itu,” jelas I Wayan Sudarna Putra dalam tur ekshibisi pertama pergelaran Art Bali 2019 di Indonesia Tourism Development Centre (ITDC) di Nusa Dua, Bali, Minggu (13/10).

Menariknya, pria yang akrab disapa Nano itu menceritakan bahwa teknik klatak ternyata tidak bisa diaplikasikan begitu saja untuk menganyam bilah bambu menjadi sebuah karya seni empat dimensi yang rumit dan artistik itu.

Begitu pun dengan teknik anyam­an lainnya, seperti anyaman keranjang atau soh asih. Ia pun menggubah menjadi teknik yang lebih abstrak agar anyaman bambu empat dimensi itu bisa dibentuk menjadi pulau-pulau modular yang merespons ruang pelataran galeri hingga membentuk labirin yang cukup Instagramable bagi pengunjung. Pengalaman itu seolah menyampaikan pesan tersembunyi bahwa persatuan tidak bisa dijaga hanya dengan satu metode tanpa penyesuaian dan keterampilan untuk beradaptasi.

“Saya belum menemukan ini, saya beri nama pola apa, ini seperti evolusi,” tambahnya.

Kebenaran baru

Karya lain yang tak kalah menariknya ialah tiga foto lanskap karya fotografer profesional dan pengajar kesenian di ITB, Deden Hendan Durahman, bertajuk Look//After. Sekilas tidak ada yang aneh dari tiga karya lanskap yang ia pamerkan dalam ruangan merah itu yang menurutnya merupakan oleh-oleh perjalanannya di beberapa kota besar di Eropa.

Deden menceritakan bahwa karya tersebut sudah pernah dipamerkan dalam sebuah ekshibisi tunggal yang mana seluruh khalayak yang datang dibuat percaya bahwa ketiga gambar yang disajikan merupakan hasil jepretannya sendiri saat menyambangi ‘Benua Biru’. Berbekal pengalamannya menjadi fotografer lanskap profesional untuk situs Lonely Planet dan Asian Explorer di masa lalu, ia pun secara presisi memerinci spesifikasi kamera dan jenis lensa yang ia gunakan untuk mengeksekusi angle dari tiga foto yang telah dikurasi itu.

“Sejujurnya saya mah cuma diam di hotel dan mengambil foto dari internet, saya susun jadi kebenaran baru. Saya membangun hoaksnya dari tempat baru. Saya download, curi, saya construct jadi jenis baru yang saya saksikan. Memory bisa dimanipulasi. Kebenaran bisa difabrikasi, semua ketipu,” tutur Deden yang gelisah pada fenomena fabrikasi realitas di media sosial yang merebak, terutama pascapemilihan presiden, April lalu.

Lewat karya hoaksnya, Deden ingin menampilkan bagaimana sebuah realitas yang spekulatif bisa dibuat-buat dengan bantuan teknologi internet dan aplikasi edit foto. Meskipun ia harus bertulah reaksi yang beragam dari para penimat seni yang hadir. “Reaksi pengunjung macam-macam, ada yang ketawa saja kalau yang sudah kenal mah. Ada yang jadi sebal terus marah, juga ada,” kisah Deden.

Tak hanya bertemakan kritik sosial dan perpolitikan, karya yang ditampilkan juga banyak mengangkat tema lingkungan seperti milik Ashley Bickerton. Seniman asal ­Amerika Serikat itu membuat karya dua dimensi dari sampah-sampah yang ia temukan di Pantai Sanur, pertengahan tahun ini, sebagai kritik yang tajam pada buruknya ekosistem laut akibat sampah plastik yang mencemari perairan Indonesia.

Seniman lainnya, Mujahid ­Nurrohman, mencoba mengangkat tema perang dalam karya seni ­instalasinya yang dibuat dari sebuah kaca vanity yang memantulkan bayangan simetris dari papercut yang indah, tapi sebetulnya disusun dari potongan berbentuk senjata laras panjang yang digunakan dalam peperangan.

Tahun ini, sebanyak 49 karya yang ditampilkan terdiri atas 25 karya dua dimensi dan 5 karya tiga dimensi serta 19 karya instalasi/multimedia/video/dan media lainnya. Karya-karya tersebut telah dikumpulkan dan dikurasi sejak Juli lalu untuk dipamerkan dalam ­ekshibisi tahunan ini. Sebagai tambahan informasi, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp150 ribu untuk WNA, Rp100 ribu untuk WNI dan pemegang KITAS, serta Rp50 ribu khusus Minggu untuk pemilik KTP Bali dan pelajar Bali.

“Art Bali adalah wadah bagi para seniman untuk terus mengulik dan menantang artistik mereka untuk membuat terobosan-terobosan ­terbaru dalam seni rupa ­kontemporer. Hal ini merupakan usaha untuk mengembangkan seni rupa Indonesia dan ekosistemnya, terutama di Bali,” ujar Direktur Art Bali Heri Pemad dalam keterangan terpisah. (M-4)

BERITA TERKAIT