03 November 2019, 01:00 WIB

Sensasi Menyelam Bebas dan Meditasi


Bagus Pradana | Weekend

DOK BRIDGET FERGUSON/RAYHAN DUDAYEV
 DOK BRIDGET FERGUSON/RAYHAN DUDAYEV
Penyelam sebisa mungkin melakukan gerakan yang efektif. Semakin banyak seorang diver bergerak, akan semakin banyak oksigen yang terbuang.

TENGAH hari itu, tujuh orang anak muda berkumpul di kolam renang Kompleks Sporto­rium Felfest kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Mereka tidak sekadar berenang untuk menepis panas yang belakangan ini sangat menyengat, tetapi menekuni olahraga khusus dengan perlengkapan yang sudah disiapkan di pinggir kolam.

Perlengkapan itu ialah sabuk pemberat, snorkel, dan kaki katak (fin). Meski begitu, mereka tidak serta-merta beraksi di dalam air, tetapi lebih banyak melakukan latihan pengaturan pernapasan. Bahkan, ada pula tahap latihan pernapasan yang dilakukan dengan permainan pikiran, yakni membangkitkan lagi memori-memori menyenangkan. Dari tahapan itu, mereka tampak masuk ke kondisi tubuh yang sangat tenang dan barulah setelahnya bernapas dalam-dalam untuk mengumpulkan udara.

Begitulah sebagian kegiatan latihan menyelam bebas (free diving) yang dijalani Komunitas Anak Pasifik, Sabtu (16/10). Berdiri Juli lalu, komunitas ini dipunggawai para alumnus Mapala UI. Untuk keterampilan free diving itu, mereka dilatih Rayhan Dudayev, salah satu pendiri Anak Pacific yang kini menjadi instruktur free diving yang berbasis di Bali.

Rayhan mengungkapkan tahap pernapasan dalam free diving terdiri atas empat, yakni relaxation breathing, full breathing, breath holding, dan recovery breathing. Breath holding penting untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam menyimpan udara, terutama ketika menghadapi kondisi tekanan rendah di dalam air. Sementara itu, recovery breathing untuk mengembalikan paru-paru ke kondisi semula pascamenyelam.

“Empat tahap latihan pernapasan itu merupakan pemanasan dasar sebelum menyelam, tujuannya adalah untuk mempersiapkan tubuh siap berada dalam kondisi dengan tekanan udara yang rendah seperti di bawah air. Selain itu, agar tidak terjadi cidera atau kram saat menyelam. Oleh karena itu, saya mewajibkan teman-teman untuk jangan pernah main-main dengan pemanasan,” terang Rayhan kepada Media Indonesia.

Pria berusia 27 tahun itu menjelaskan jika penyelam dituntut agar sebisa mungkin melakukan gerakan yang efektif. Semakin banyak seorang diver bergerak, akan semakin banyak oksigen yang terbuang.

Gerakan yang efektif itu tentunya pula berkat penguasaan terhadap dua gerakan berenang dasar, static apnea, dan dynamic apnea. “Untuk gaya berenang sendiri, saya arahkan teman-teman untuk rutin berlatih dua gaya dasar. Diawali dengan static (menahan napas di dalam air) dan dilanjutkan dengan dynamic dasar, seperti flutter kick atau dolphin kick untuk menghemat tenaga,” jelas Rayhan.

Rileks

Citra ialah satu di antara tujuh anggota komunitas Anak Pasifik yang kami temui dalam sesi latihan rutin komunitas ini. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya UI itu sekarang telah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Citra tertarik menekuni olahraga ekstrem ini karena ia merasa selam bebas dapat membantunya mencapai kondisi rileks.

“Saya suka dengan kegiatan di air, seperti berenang dan menyelam. Dan kenapa saya tertarik dengan free diving ini, selain karena baik untuk kesehatan, saya merasa olahraga ini juga memiliki prinsip yang sama seperti meditasi di dalam air. Prinsipnya, mirip seperti yoga,” terang perempuan dengan nama lengkap Dwi Citra Larasati itu.

Manfaat relaksasi pula yang diakui Rayhan membuatnya ketagihan pada olahraga itu. Baginya, saat berada di dalam laut, ia menyadari keberadaan yang kecil sebagai manusia. Dalam kondisi kedalaman yang hening itu pun, ia seperti diajak melihat ke dalam diri sendiri.

“Buat saya olahraga ini adalah se­suatu yang meditatif. Buat saya selam bebas itu sudah menjadi hal yang spiritual,” ujarnya. Efek meditatif itu pula yang kemudian membuatnya menjadi rileks hingga kemudian bisa menahan napas dalam jangka waktu panjang.

Selain Citra, ada juga Rino Destama, mahasiswa Geologi FMIPA UI yang memang memiliki minat besar terhadap olahraga selam bebas ini. Ia mengaku tertarik dengan free diving karena ingin mengikuti kompetisi free diving yang mulai banyak diselenggarakan di Indonesia.

“Awalnya, saya memulai dari Scuba, kemudian saat tahu di kampus ada free diving, saya coba ikut akhirnya keterusan. Di sini saya lebih suka olahraganya sih, di sisi sport-nya. Setahu saya olahraga ini bisa mengoptimalkan kemampuan tubuh, seperti kemampuan untuk menahan napas. Saya ingin suatu saat bisa ikut di kompetisi free diving,” terang mahasiswa angkatan 2017 itu.

Rayhan mengaku senang melihat semangat para juniornya itu dalam mempelajari free diving. Di sisi lain, tidak sekadar mengejar kemampuan menyelam dan menahan napas, Rayhan juga menekankan agar mereka menyadari risiko dari olahraga ekstrem itu.

Sebab itu, setiap penyelam wajib memperhitungkan medan dan dirinya sendiri dengan baik. Ketika seorang penyelam tidak disiplin dengan aturan yang ada, potensi bahaya dapat terjadi. (M-1)

BERITA TERKAIT