03 November 2019, 00:40 WIB

Ubah Stereotip Perempuan di Media


Suryani Wandari Putri | Weekend

MI/VICKY GUSTIAWAN
 MI/VICKY GUSTIAWAN
Naura Normalita Afrianti

MENGAWASI anak buah, memonitor target pekerjaan, hingga mengambil keputusan bukan pekara mudah bagi para pemimpin perusahaan. Namun, bagaimana kalau siswa sekolah menengah atas (SMA) diberikan kesempatan melakukan semua tugas pimpinan sebuah perusahaan?

Seperti yang dialami Naura Normalita Afrianti, siswa SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang itu didapuk sebagai Direktur Pemberitaan Media Indonesia selama satu hari menggantikan Usman Kansong, Rabu (9/10).

Perempuan yang akrab disapa Naura itu merupakan lima dari 12 siswa dari berbagai daerah di Indonesia yang berhasil melewati kurasi untuk dapat mengikuti kegiatan dibina Girls Take Over. Program Sehari Jadi Pemimpin yang digagas Plan Indonesia itu dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional pada 11 Oktober.

Remaja usia 15-17 tahun itu menunjukkan kemampuan mereka memimpin. Mereka dilatih tampil berani dan menyampaikan pesan kepada lingkungan sekitar dan publik, teruta­ma mengenai kesetaraan perempuan. Muda Media Indonesia pun berhasil mewawancarai Naura pada 10 Oktober silam.

Bagaimana perasaanmu menjadi Pimpinan Redaksi Media Indonesia?  

Senang banget ya. Ini kayak mimpiku yang jadi nyata karena aku memang kepengin banget jadi jurnalis. Ini menjadi pengalaman berharga sekali karena saya masih SMA, belum belajar ilmu jurnalistik, apalagi pas pertama nyemplung saya jadi pimpinan redaksi langsung. Senang juga diterima dengan baik, saya jadi tambah semangat untuk mengejar mimpi jadi jurnalis. Sudah minta juga untuk bisa magang di Media Indonesia, he he.

Ilmu apa yang kamu dapat selama mengambil alih posisi pimpinan redaksi?

Wah, ternyata pekerjaan jurnalis atau redaksi itu tidak gampang. Rapat redaksi saja berlangsung tiga kali dalam sehari untuk menentukan headline atau HL. Belum lagi pekerjaan mereka cukup panjang dan butuh kerja tim yang solid. Tidak hanya mencari berita di lapangan, tapi juga harus bekerja sama dengan editor, tim bahasa, layout, percetakan, dan lainnya.
 
Pada saat penentuan posisi para pemimpin, apa ada kurasi juga?

Sebenarnya, selain menjadi Pemimpin Redaksi Media Indonesia, ada empat posisi pimpinan lainnya. Seperti posisi Menteri Kominfo, Managing Director Google Indonesia, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, dan  Pemimpin Redaksi The Jakarta Post. Kami dipilih oleh peserta Girls Take Over langsung dari pertimbangan hasil presentasi kami. Kebetulan saya berhasil mengambil alih posisi ini sesuai keinginanku.

Bagaimana pendapatmu tentang media (berita) di Indonesia? Apakah sudah menunjukkan kesetaraan gender?  

Menurut saya, belum semua media bisa menempatkan kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Di lihat dari banyak headline berita dari beberapa media bahkan platform berita, lebih menonjolkan sisi perempuan itu hanya kondisi fisik daripada potensinya. Berbeda halnya laki-laki lebih digambarkan sebagai sosok yang memiliki potensi yang kuat.

Kemarin kamu menjadi pimpinan redaksi, jika punya kewenangan seperti itu apa yang akan kamu lakukan untuk mengubah persepsi perempuan?

Jika punya wewenang, saya ingin sekali menerapkan aturan yang tentu mengacu pada kode etik pers dalam berita. Baik perempuan maupun laki-laki harus dideskripsikan ke arah potensi yang dimiliki daripada hanya fisik diri atau objek seksualitas semata.  

Menurutmu bagaimana citra perempuan dalam media film dan iklan?

Citra perempuan dalam media film dan iklan tentu lebih mengejutkan lagi karena sebagaimana dilihat sebagian besar media film dan iklan  lebih mencitrakan fisik perempuan yang sempurna. Seperti kulit putih, berambut panjang, dan berwajah tirus.
Tak hanya itu, benar kata data dari Pla yang mana perempuan menjadi sasaran objek seksual, seperti poster film-film Hollywood, peran perempuan pasti dinomorsekiankan. Nah, kalau perempuan menjadi tokoh utama, misalnya, dalam film pahlawan, pasti ditam­pilkan berpakaian minim dan sensual.

Adakah saran untuk praktisi media dan industri film untuk membangun citra perempuan tangguh?  

Saran aku, media lebih banyak memberitakan perempuan dengan headline yang men­deskripsikan perempuan itu tangguh. Sementara itu, untuk industri film harusnya lebih banyak melahirkan film-film dengan pesan moral yang mampu mengubah persepsi masyarakat, bahwa perempuan itu juga sejatinya orang yang tangguh. Setop menggambarkan dari fisik yang dimiliki, apalagi hanya menggambarkan seksualitas perempuan.

Setelah Girls Take Over, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?  

Setelah acara ini saya akan menyosia­li­sasikan kepada teman maupun kelompok belajar atau komunitas bahwa perempuan juga memiliki kekuatan dan potensi untuk menjadi seorang pemimpin tangguh yang mampu ikut mendobrak peradaban dunia. Memberikan kesadaran baik perempuan maupun laki-laki memiliki peran dan hak yang sama untuk dicitrakan sebagai manusia yang ‘kuat’. Menyadarkan kaum laki-laki agar memberikan ‘ruang’ untuk perempuan mengembangkan diri. Setop patriarki dan setop diskriminasi.

Syarat lanjut ke Girls Take Over ini ialah aktif dalam komunitas, kamu sendiri tergabung di komunitas apa?

Iya, belum lama ini sih. Pada 2018, saya mendirikan komunitas Magelang Cerita dengan jumlah relawan yang tergabung sebanyak 40-an. Kami punya dua program kegiatan, yakni Magelang Cerita menulis, yang menghimpun teman-teman yang memiliki hobi menulis untuk berkarya bersama dan menyebarkan literasi, dan Taman Teman Bermain, yaitu program yang membuat anggotanya dapat berperan sebagai kakak pendamping agar anak-anak bisa bermain dan belajar di desa dan panti asuhan putri. Selain mendirikan komunitas, Naura juga aktif di organisasi Bangun Bangsa Indonesia sebagai koordinator Wilayah Provinsi Jawa Tengah, dan mendapatkan amanah sebagai Duta Baca Kabupaten Magelang (juara harapan 1).

Bersama komunitas, adakah aksi yang akan kamu lakukan untuk me­nin­daklanjuti acara Girls Take Over?

Tentu, Naura bersama komunitas ataupun organisasi akan menindaklanjuti acara Girls Take Over seperti akan menyosialisasikan kepada adik-adik pendamping di desa dan panti asuhan, menjadi pembicara, dan mengadakan diskusi bersama.

Apa pesan dan harapan kamu bagi perempuan Indonesia?

Perempuan Indonesia harus menjadi perempuan yang memiliki potensi dan ke­tangguhan. Siap menjadi pemimpin di berbagai aspek kehidupan dan siap ikut serta menjadi agen peradaban dunia. (M-3)

BERITA TERKAIT