02 November 2019, 15:24 WIB

Menteri Agama Harus Bisa Merangkul Dua Hijau


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari memaparkan hasil survei

LEMBAGA  survei Indo Barometer menyayangkan sikap Menteri Agama Fachrul Razi yang ingin melarang penggunaan celana cingkrang dan cadar di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengungkapkan seharusnya Menteri Agama dapat menyatukan dua hijau yaitu hijau Islam dan hijau TNI.

"Seharusnya, Menag harus merangkul dua hijau hijau Islam dan hijau tentara. Sementara, partai politik menunjukkan hal yang berbeda dan saling mendekat," kata Qodari dalam diskusi prespektif Indonesia di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (2/11).

Realita politiknya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah bergabung dalam kabinet dan PKS telah merajut dengan NasDem. Sayanganya, Menteri Agama justru mengeluarkan pernyataan yang dianggap membelah.

Dirinya sangat menyesalkan pernyataan Menteri Agama karena, menurutnya, pernyataan yang membenturkan bukan merangkul. Sementara untuk melakukan perubahan deradikalisasi ini harus menjalin komunikasi.

"Jika melakukan pendekatan yang konfrontatif yang mau diubah pemikirannya justru semakin menjauh bahkan malah mendekati radikalisasi," ujar Qodari.

Pernyataannya ASN yang tidak boleh menggunakan celana cingkrang dan pengguna cadar. Hal itukan seakan mengunci orang yang dengan celana cingkrang dan cadar adalah orang yang radikal.

"Kita memang setuju kalau PNS harus punya seragam. Tetapi ketika dilontarkan seperti ini prespektif bisa meluas kemana-mana. Semua orang menyadari konteksnya PNS," ucapnya.

Menurutnya, ada cara-cara yang lebih elegan seperti melihat kurikulum pesantren, mengkoreksi kurikulum yang sekiranya radikal, dan menonjolkan kurikulum yang lebih moderat.

Meski begitu, Qodari mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo yang mengangkat Menag berasal dari kalangan TNI. Karena saat ini kalangan tentara dekat dengan kalangan Islam. Sehingga, itu titik yang sudah bagus, adanya pintu untuk memulai dialog.

"Tapi jangan mentang-mentang sama-sama hijau ngomongnya keras yang sehingga hijau-hijau ini tidak ada maknanya. Takutnya, program pemerintah untuk deradikalisasi ditolak. Karena merasa sudah punya jarak dengan Menang," tegasnya.

Saat ini yang harus diperbaiki ialah cara komunikasi, terminologi pendekatan dan lainya jangan menggunakan kata-kata yang provokatif yang membenturkan.

"Mulai lah membangun trust bukan distrust. Yang terjadi saat ini membangun distrust. Ideologi itu kalau dilawan dengan distrust maka semakin radikal. Maka harus dibangun dulu trust secara personal, secara program. Sehingga masuk paham deradikalisasi," tutupnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT