02 November 2019, 14:01 WIB

Tiga Kesepakatan Pertemuan NasDem dan PKS


M. Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh (kiri) berbincang dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman.

KETUA DPP Partai NasDem Willy Aditya mengungkapkan bahwa ada tiga kesepakatan yang ditandatangani bersama. Pada pertemuan yang dilakukan oleh petinggi NasDem dan PKS pada Senin (30/10) di Kantor DPP PKS, Jakarta.

Kesepakatan pertama adalah menghormati posisi partai politik masing-masing sehingga demokrasi tetap berjalan dengan baik.

"Atas dasar itulah kemudian kan demokrasi itu berjalan, proses penghargaan setelah hasilnya keluar. Ada yang menang kemudian memerintah ada yang kalah kemudian diluar pemerintahan," kata Willy dalam diskusi prespektif Indonesia di Kebon Sirih, Sabtu (2/11).

Menurutnya, Surya Paloh datang ke PKS untuk memberikan apresiasi terhadap PKS. Bahwasanya kalah bukan suatu hal yang salah. Kalah bukannya suatu hal yang hina, tapi ketika kita teguh pada posisi tidak kemudian larut dalam proses negosiasi.

Sehingga dapat dinamakan jiwa kesatria. Bagaimana proses mengutamakan itu sangat penting.

Dalam hal itu juga PKS menghargai posisi NasDem di dalam pemerintahan saat ini dalam kabinet Indonesia Maju. Sedangkan, NasDem juga menghargai posisi PKS diluar pemerintahan. Sehingg inti dari pertemuan elit politik itu adalah melakukan check and balances di Senayan itu. 

"Kesepa kedua adalah sama-sama mengedepankan Akhlakul Karimah, keteladanan, dan kebajikan di ruang publik," ujar Willy.

Willy mengungkapkan pembicaraan itu sempat terputus karena pada dua tahun lalu Presiden PKS Sohibul Iman dan Surya Paloh sempat menggagas workshop mengenai tutur kata di ruang publik.

"Karena harus ada etis dalam berbicara di ruang publik. Sehingga, publik bisa menilai dengan baik politisi yang baik dalam bertutur kata. Itu yang dikedepankan yang dituangkan dalam poin kedua," jelasnya.

Sedangkan kesepakatan ketiga ialah sama-sama menjaga nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila yang kemudian bersikap tegas terhadap aksi intoleransi, radikalisme, terorisme dan sebagainya.

"Yang dibahas waktu itu diskusinya yang sangat berat Pak Sohibul iman berbicara mengenai trust dalam kondisi kebangsaan," ungkap Willy.

Bagaimana posisi bangsa, tandasnya, berada di posisi high trust, middle trust, atau low trust. Dialog yang terjadi pada saat itu merupakan modal partai dalam berbangsa.

"Yang kemudian itu kita apresiasi yang kemudian dituangkan dalam kerangka konkret. Selanjutnya, akan ada pertemuan lanjutan yang bersifat di lapangan. Kader dan fungsional antar partai bersama dengan rakyat akan ada aksi di lapangan di beberapa titik," tutup Willy. (OL-09)

BERITA TERKAIT