02 November 2019, 08:25 WIB

Investor Dinilai Optimistis atas Prospek Ekonomi RI


Faustinus Nua | Ekonomi

BI/BPS
 BI/BPS
Aliran Modal Asing dan Produksi Industri Manufaktur

BANK Indonesia (BI) mencatat aliran mo­dal asing yang masuk ke dalam negeri mencapai Rp217,04 triliun year to date (ytd). Hal itu diyakini menunjukkan adanya optimisme investor pada prospek ekonomi Indonesia.

“Sampai 31 Oktober ytd, keseluruhan tahun aliran modal asing masuk dalam bentuk portofolio ke SBN dan saham jumlahnya Rp217,04 triliun,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, di kompleks BI, Jakarta (1/11).

Modal asing yang masuk, lanjut Perry, terdiri atas obligasi pemerintah Rp165,2 triliun dan saham Rp49,9 trilun. Selain itu, ada sebagian kecil obligasi koorporasi, yakni 2,06% per triwulan.

Dia juga menambahkan, untuk week to date (wtd) aliran modal asing yang masuk per 31 Oktober 2019 mencapai Rp4,45 triliun ke SBN. Sementara itu, obligasi koorporasi sebesar Rp0,11 triliun dan saham terjadi aliran modal keluar (outflow) sebesar Rp0,19 triliun.

Menurut Perry, masuknya aliran modal asing menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap kebijakan Indonesia. Dengan kepemimpinan yang baru dilantik, baik Presiden dan para menteri maupun pelaku ekonomi lainnya menambah optimisme investor.

“Ini lagi-lagi mengonfirmasi confident terhadap Indonesia masih cukup baik. Terbukti dari aliran inflow asing masuk ke portofolio yang terus mengalir. Ini juga menunjukkan confident prospek ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Terkait inflasi, BI memperkirakan tingkat inflasi hingga akhir 2019 aman terkendali. Hal itu disebabkan tingkat inflasi per Oktober masih di bawah titik aman, yakni 2,20% secara year to date.

“Inflasi rendah dan terkendali dan mendukung terjaganya daya beli masyarakat dengan harga terkendali ini. Konfirmasi perkiraan BI akhir tahun, insya Allah inflasi akan berada di bawah titik tengah sasaran 3,5%,“ kata Perry.

Tingkat inflasi selama Oktober 2019 dijelaskannya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) lebih rendah daripada estimasi BI. BPS mencatat tingkat inflasi Oktober 0,02% secara month to month dan 3,13% secara year on year.

Stabilitas

Pada bagian lain, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional hingga triwulan III 2019 masih terkendali di tengah ketidakpastian global. Keterangan pers Sekretariat KSSK, Jumat (1/11), menyatakan stabilitas sistem keuangan masih dipengaruhi ketidakpastian hubungan perdagangan AS dengan Tiongkok.   

Perkembangan ini menyebabkan penurunan volume perdagangan dan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia diikuti dengan melemahnya harga komoditas dan tekanan inflasi.    

Berbagai negara merespons perkembangan ini dengan melonggarkan kebijakan moneter dan memberikan stimulus fiskal, yang kemudian mendorong­ masuknya aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski menghadapi tantangan, pertumbuhan ekonomi dinyatakan dalam keadaan baik dengan risiko kontraksi kinerja ekspor yang perlu perhatian. (Ant/X-6)

BERITA TERKAIT