02 November 2019, 02:00 WIB

DPR AS Resmikan Upaya Pemakzulan


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Win McNamee / POOL / AFP
 Win McNamee / POOL / AFP
Ketua DPR Nancy Pelosi memimpin DPR AS ketika memberikan suara pada resolusi meresmikan penyelidikan pemakzulan Presiden AS Donald Trump.

DEWAN Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, yang dikontrol kubu Partai Demokrat, menyetujui resolusi untuk menetapkan aturan audiensi publik dalam penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump.

Resolusi itu, yang disetujui dalam pemungutan suara 232-196, memberi wewenang kepada komite DPR untuk menjalankan audiensi publik secara formal.

Dengan tebal delapan halaman, re­solusi itu memungkinkan penyelidikan terbuka untuk publik. Warga AS akan dapat menonton pemeriksaan saksi-saksi secara langsung di televisi. Jika kasus Trump dinilai cukup kuat, komite DPR akan menyusun dakwaan formal terhadap sang Presiden. Dakwaan itu lalu akan di-vo­ting oleh seluruh anggota DPR.

Belum bisa dipastikan seberapa cepat proses itu bisa berjalan. Beberapa pengamat menyebut DPR AS yang dikuasai Demokrat itu akan bisa memakzulkan Trump di akhir 2019.

Penyelidikan

Pemungutan suara DPR diajukan oleh Ketua DPR Nancy Pelosi, seorang Demokrat, setelah terjadi  dengar pendapat investigasi selama berbulan-bulan oleh enam komite DPR. Targetnya ialah perilaku presiden dalam urusan kantor dan bisnis swasta.

Pelosi mendesak sesama anggota Kongres untuk melindungi Kon­­sti­tusi Amerika Serikat. “Hal yang dipertaruhkan dalam semua ini tidak lain ialah demokrasi kita,” ujarnya, kemarin.

Demokrat menuduh Trump menggunakan kekuasaannya untuk ke­perluan pribadi. Trump dituding menahan bantuan keamanan senilai hampir US$400 juta demi menekan Presiden Ukraina, Volodymyr Ze­lensky, agar mau mencari kesalahan dari pesaing politik Trump, yaitu Joe Bidendari kubu Demokrat.  

Target lainnya ialah anak Joe Biden, Hunter, yang pernah bekerja di dewan perusahaan gas Ukraina. Sejauh ini tidak ditemukan adanya bukti kesalahan telah dilakukan oleh duo Biden tersebut.

Tidak kompak

Seluruh politikus Partai Republik, pendukung Trump, tidak mendukung resolusi itu dan memilih ‘tidak’ dalam voting. Hal yang me­ngagetkan ialah adanya dua politikus Demokrat yang memilih tidak sejalan dengan partai dengan ikut memberikan suara ‘tidak’.

Dua politikus Demokrat ialah Collin Peterson dari Minnesota dan Jeff Van Drew dari New Jersey. Trump memenangi distrik Peterson dengan persentase 30 poin pada 2016. Sedangkan Distrik Van Drew memberi Trump dengan 4,6 poin pada 2016. Di sisi lain, seorang mantan politikus Republik yang kini menjadi tokoh independen, Justin Amash, mendukung resolusi. Amash juga mengritik sikap Republik. “Membiarkan tingkah Trump akan merusak citra Republik,” tegasnya. (AFP/Uca/X-11)

BERITA TERKAIT