01 November 2019, 10:25 WIB

Presiden Irak Sebut PM Abdul Mahdi Setuju Mundur


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/TIMOTHY A CLARY
 AFP/TIMOTHY A CLARY
Presiden Irak Barham Saleh

SETELAH hampir satu bulan protes mematikan berlangsung di Irak, Presiden Irak Barham Saleh mengumumkan Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi telah setuju mundur dari jabatannya jika telah ada seorang penerus untuk menggantikan posisinya.

"Perdana menteri mengumumkan dia siap mengundurkan diri jika para pihak menyepakati alternatif yang memadai dalam konteks hukum dan konstitusi untuk menghindari kekosongan konstitusional," terang Barham dalam pidato pertamanya di televisi, Kamis (31/10).

Pada kesempatan itu pula, Barham juga mengumumkan pihaknya akan mengadakan pemilu dini. UU Pemilu yang baru akan diajukan ke parlemen, pekan depan.

Barham mengatakan ia telah melakukan pembicaraan tertutup dengan tokoh-tokoh penting terkait turunnya Abdul Mahdi sebagai perdana menteri dan parlemen telah memintanya datang guna membicarakannya.

Baca juga: Militer AS Rilis Rekaman Penyergapan Baghdadi

Namun, Abdul Mahdi sejauh ini menolak dengan mengatakan ia hanya akan datang jika sesi tersebut disiarkan secara langsung di televisi.

Pada Kamis (31/10), anggota parlemen pun mengadakan pertemuan keempat berturut-turut dan setuju menyiarkan sesi apa pun secara langsung dan meminta Abdul untuk segera datang.

Meski demikian, pidato Barham tersebut agaknya tidak berhasil membuat para demonstran terkesan.

"Pidato Barham hanyalah candu bagi massa. Pengunduran diri Abdel Mahdi bukanlah solusi, itu hanyalah salah satu bagian dari solusi. Masalahnya adalah dengan partai-partai yang berkuasa, bukan dengan Abdel Mahdi," ungkap warga setempat Haydar Kazem.

Para pemimpin Irak menghadapi demonstrasi besar-besaran yang meletus sejak awal Oktober. Para demonstran yang awalnya memprotes tingginya angka pengangguran dan korupsi kemudian meluas menjadi tuntutan terhadap jatuhnya rezim.

Komisi Hak Asasi Manusia Irak menyebutkan sedikitnya 257 orang telah tewas dan 10 ribu orang lainnya terluka sejak protes meletus pada 1 Oktober. (afp/aljazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT