01 November 2019, 08:05 WIB

Optimalisasi Hilir dengan Teknologi


mediaindonesia.com | Megapolitan

Istimewa/Pemprov DKI Jakarta
 Istimewa/Pemprov DKI Jakarta
Hilirisasi sampah dengan teknologi

TEMPAT Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, dua tahun mendatang akan mengalami kelebihan beban penampungan sampah.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi membeludaknya sampah Bantargebang dengan membangun Intermediete Treatment Facility (ITF) atau Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA) di Sunter. ITF dibangun oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

Peletakan batu pertama pembangunan ITF langsung dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 20 Desember 2018 dan ditargetkan beroperasi pada 2021.

Berkapasitas 2200 ton per hari, ITF akan mengolah sampah anorganik menjadi tenaga listrik. Listrik yang dihasilkan ITF Sunter mencapai 35 megawatt.

Untuk mengoperasikan ITF, dibutuhkan pemilahan sampah yang maksimal sejak dari hulu sebab ITF hanya akan membutuhkan sampah anorganik, seperti logam, kaca, plastik, hingga tekstil.

“Untuk itu sebetulnya sebelum ITF beroperasi, budaya memilah sampah sebaiknya sudah berjalan maksimal. Kita harap dengan adanya ITF ini dapat membudayakan pemilahan sampah itu,” ungkap Sekretaris Perusahaan PT Jakpro Hani Sumarno ketika dihubungi Media Indonesia, Kamis (31/10).

Pembudayaan itu dapat dilakukan dengan melembagakan unsur-unsur masyarakat untuk membentuk bank sampah. Selain untuk memilah sampah bagi ITF, bank sampah juga dapat bermanfaat menghasilkan pemasukan tambahan bagi masyarakat. “Sehingga terbentuklah budaya pemilahan sampah yang menimbulkan adanya ekonomi sirkular,” kata Hani.

Optimalisasi pemilahan sampah pun, kata dia, sudah mulai digalakkan Dinas Lingkungan Hidup DKI.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Andono Warih menambahkan, Pemprov DKI juga bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Bantargebang.

Mulai dibangun pada 2017, PLTSa Bantargebang yang telah selesai dibangun dan resmi beroperasi pada Maret tahun ini mampu mengolah sebanyak 100 ton sampah per hari dan menghasilkan daya listrik sebesar 700 kwh.

Listrik yang dihasilkan PLTSa itu dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif (refuse derived fuel) industri semen. Bahan bakar alternatif dari sampah ini setara dengan nilai kalor batu bara muda.

“Upaya-upaya ini dapat memperpanjang masa manfaat TPST Bantargebang. Jika tanpa dilakukan langkah-langkah mitigasi ini, diperkirakan TPST Bantargebang akan penuh pada 2022,” kata Andono.

Diperbanyak

Secara terpisah, pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah mengatakan teknologi seperti ITF bisa diperbanyak di berbagai wilayah di Jakarta untuk mengatasi timbunan sampah DKI yang cukup banyak. Terlebih, teknologi ITF atau FPSA Sunter baru beroperasi pada 2021.

“Perlu lebih banyak dan lebih masif fasilitas pengelolaan sampah sejenis ini yang harus dibangun di Jakarta sebab selain ini membuat sampah berkurang, juga bisa menghasilkan listrik yang bisa dijual,” ungkapnya.

Trubus menegaskan Pemprov DKI Jakarta harus secepatnya mengambil langkah berani untuk mengurangi timbunan sampah ke Bantargebang. Terlebih, ketergantungan pada daerah mitra harus bisa dikurangi secara perlahan.

“Karena ketimbang kita memberikan uang bau dan kompensasi sebagainya, lebih baik anggaran yang sangat besar itu dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Jakarta yang masih membutuhkan,” tandasnya. (Put/S5-25)

BERITA TERKAIT