01 November 2019, 08:00 WIB

Menekan Sumber Sampah dari Hulu hingga Hilir


mediaindonesia.com | Megapolitan

Antara/Wahyu Putro A
 Antara/Wahyu Putro A
Petugas kebersihan mengambil sampah di aliran sungai Kanal Bajir Barat, Tanah Abang, Jakarta. 

PEMPROV DKI Jakarta terus berupaya menggalakkan pengurangan sampah dari sumbernya untuk mengurangi sampah yang akan diangkut ke tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang.

Selama ini jumlah sampah harian DKI mencapai 7.500 ton per hari. Adapun kapasitas Bantargebang saat ini semakin mendekati beban puncak dan diprediksi akan kelebihan beban (overload) pada 2021. Itulah yang menyulut program pengurangan sampah dari sumbernya semakin digalakkan.

“Setelah mengindentifikasi masalah pengelolaan sampah di DKI Jakarta, Gubernur lantas merumuskan tiga kegiatan strategis daerah (KSD) untuk menyelesaikan permasalahan menahun soal pengelolaan sampah di Jakarta secara komprehensif dan dari akar permasalahannya,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih kepada Media Indonesia, di Jakarta, Kamis (24/10).

Strategi pengurangan sampah dilakukan salah satunya dengan pemilahan sampah pada bank sampah yang berada di lingkungan rumah warga. Untuk pemilahan di rumah-rumah, fungsi bank sampah sangat menjanjikan. Salah satunya yang berada di lingkungan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat.

Menurut data Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, total produksi sampah di Jakarta Pusat mencapai 842 ton per hari. KSD menargetkan pengurangan sampah hingga 20% sehingga Jakarta Pusat memiliki target untuk mengurangi 168 ton sampah dari total 842 ton sampah per hari. Adapun bank sampah ditargetkan mampu mengurangi 5% dari angka yang ditargetkan atau sekitar 8,4 ton per hari.

Kegiatan pengurangan sampah juga dilakukan dengan merangkul pelajar-pelajar di sekolah. Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan bank-bank konvensional mengadakan program menabung dengan sampah.

Pihaknya bakal membentuk unit bank sampah di sekolah-sekolah negeri. Untuk sementara ini akan ada 200 sekolah yang berpartisipasi dalam sosialisasi pemilahan dan program menabung dengan sampah.

“Kami tahu menangani sampah perlu gerakan semua warga dari sumbernya. Penanganan di hulu dan hilir itu bisa lebih ringan,” ungkap Andono.

Mengenai mekanismenya, siswa memilah sampah di rumah masing-masing. Kemudian setelah terkumpul, sampah anorganik akan dibawa ke sekolah untuk ditimbang petugas.

Hari penimbangan pun disepakati petugas dan sekolah. Nantinya ada truk anorganik yang mengangkut sampah kumpulan dari para siswa untuk ditimbang di bank sampah induk (BSI).

Kemudian, sampah dibawa ke recycle business unit (RBU) dan pembayaran langsung ditransfer ke rekening BSI. BSI langsung mentransfer uang yang diterima ke agen bank yang tersebar di seluruh bank sampah unit (BSU) di sekolah-sekolah, yang kemudian bisa langsung diterima nasabah BSU.

Nilai ekonomi

Andono menjelaskan, tiap sampah anorganik memiliki harga yang berbeda-beda tergantung dari jenis bahannya. “Berapa yang didapat pelajar nantinya ditentukan dari jenis sampah yang dikumpulkan dan beratnya,” terang Andono.

Ia menegaskan sampah yang dikumpulkan di sekolah tidak akan mencemari sekolah, lantaran jenis sampahnya yang kering. Selain itu, di saat hari penimbangan sampah akan langsung dibawa truk pengangkut. Pihaknya pun mengimbau agar para guru, siswa, dan orangtua tidak perlu khawatir atas program tersebut.

Pasalnya, jelas Andono, sampah anorganik seperti sampah kemasan masih memiliki nilai ekonomi yang dapat ditabung. Di sinilah ada kolaborasi antara perbankan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam mengurangi sampah di sumber dengan tabungan sampah anorganik.

Menurut Andono, nantinya ada 12 bank yang ikut terlibat dalam program tersebut. “Jadi ada tiga pihak nih yang bekerja sama, satu DLH. Dalam rangka mengurangi sampah di sumber, memilah, dan menabung. Menabungnya dengan perbankan, lalu yang melakukan siapa? Dari generasi muda, siswa kita. Supaya dari awal punya pengetahuan yang benar,” pungkas Andono. (Put/S5-25)

BERITA TERKAIT