01 November 2019, 04:00 WIB

Investasi Triwulan III Tembus Rp601,3 T


(Pra/E-2) | Ekonomi

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc
 ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia 

BADAN Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang Januari-September 2019 mencapai Rp601,3 triliun. Jumlah tersebut sudah mencapai 76% dari target yang dibidik di tahun ini yakni Rp792 triliun.

Secara terperinci, investasi dari dalam negeri tercatat sebesar Rp283,5 triliun, tumbuh 17,3% dari raihan di periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Adapun penanaman modal asing (PMA) yang masuk mencapai Rp317,8 triliun atau tumbuh 8,2%.

"Capaian investasi masih sesuai target. Saat ini sudah 76%. Masih ada target Rp192 triliun untuk direalisasikan dalam tiga bulan terakhir. Kami optimistis tercapai meski ekonomi global belum menggembirakan," ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia di kantornya, Jakarta, kemarin.

Dalam sisa tahun ini, Bahlil mengatakan akan mengejar target PMA yang baru terealisasi 65,7% dari angka yang dipatok Rp483,7 triliun di sepanjang 2019.

Untuk realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sudah cukup aman karena telah menyentuh 92% dari target Rp308,3 triliun.

Bahlil mengatakan pihaknya akan menggenjot tiga kebijakan utama, yaitu mendorong kolaborasi pengusaha lokal dengan investor asing, mendorong peme-rataan investasi ke luar Jawa, dan memberikan kemudahan insentif berdasarkan kebutuhan investor.

Ia juga akan berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga lain untuk mencari dan mengidentifikasi izin-izin yang selama ini mempersulit investor dalam menanamkan modal mereka di Indonesia.

"Selama ini keluhan teman-teman ialah izin tumpang-tindih antara daerah dan provinsi. Sekarang tugas kami ialah melakukan konsolidasi untuk mengidentifikasi izin yang selama ini menjadi keluhan pengusaha," ujarnya.

BKPM juga telah menyusun strategi berupa promosi investasi yang disesuaikan antara sektor dan negara asal. Seperti sektor hilirisasi sumber daya alam (SDA) yang ditujukan ke negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah, serta sektor industri berbasis ekspor dengan negara target Asia Timur, Eropa, dan Amerika Serikat. (Pra/E-2)

BERITA TERKAIT