01 November 2019, 03:20 WIB

Swasta Jangan Ikut Gloomy


M Ilham RA | Ekonomi

 ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
  ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
CEO NETWORKING 2019: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta pelaku usaha tetap optimistis dalam menghadapi guncangan ekoomi global yang menyebabkan perekonomian di berbagai negara menjadi tidak stabil. Pengusaha pun jangan terlalu lama bersikap wait and see.

"Saya ingin menekankan jangan ikut gloomy karena saat ini (perekonomian) psyhcology driven weakness," ujarnya saat menjadi pembicara dalam CEO Networking 2019 di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, dalam rapat kabinet terbatas yang membahas proyeksi ekonomi tahun depan, Presiden Joko Widodo mengingatkan adanya ancaman kondisi ekonomi yang lebih sulit di tahun depan, bahkan mengarah ke resesi ekonomi.

Kepala Negara meminta semua pihak mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Ini bolak-balik saya sampaikan, kuncinya ada di, pertama, peningkatan ekspor dan substitusi barang-barang impor. Kedua, yang sangat penting ialah juga investasi," ujar Presiden saat rapat yang digelar Rabu (30/10) .

Untuk menyikapi tekanan ekonomi yang bakal lebih berat di tahun depan, Menkeu melanjutkan, para pelaku usaha harus tetap menjaga optimisme mereka. Ia mengatakan masih banyak negara dalam situasi berat saat ini yang berhasil menjaga kestabilan ekonomi. Ia mencontohkan Tiongkok yang saat ini masih bisa tumbuh di atas 5% meski prediksi sejak lima tahun lalu di bawah 4,5%.

Menkeu memastikan Indonesia sendiri sedang berada di dalam kondisi yang relatif stabil dengan pertumbuhan ekonomi masih di atas proyeksi perlemahan yakni 5,05%.

Ia menuturkan bahwa pertumbuhan tersebut membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan dalam menjaga stabilitas ekonomi sebab memiliki pasar domestik yang besar.

Kebijakan akomodatif

Dalam acara yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberi sinyal kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun depan, tetapi tetap melihat perkembangan ekonomi global pada 2020 mendatang.

Bank sentral memproyeksikan ekonomi global pada tahun ini akan mencapai 3% dan 3,1% pada 2020, dengan asumsi perang dagang tidak semakin memburuk serta kesepakatan AS dan Tiongkok dapat terealisasi bulan depan.

"Berdasarkan asumsi itu, kami memberikan forward guidance. BI masih melihat terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif, bisa dalam bentuk suku bunga, penurunan GWM, atau relaksasi makroprudensial," ujar Perry.

Kendati demikian, lanjutnya, bank sentral tetap terus mengikuti dan mencermati perkembangan data dalam mengambil kebijakan, terutama analisis skenario-skenario ekonomi dari Amerika Serikat.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso yang juga jadi pembicara dalam diskusi tersebut mengimbau perbankan untuk dapat memanfaatkan keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang kembali memangkas suku bunga acuan Fed fund rate.

Menurut dia, pemangkasan suku bunga The Fed dapat memberi ruang untuk melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan perekonomian nasional, serta akan ditransmisikan kepada penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia sehingga dapat lebih menguntungkan bagi pasar. (E-2)

BERITA TERKAIT