31 October 2019, 17:08 WIB

Anies Dikritik, Gerindra Minta William PSI Jaga Tata Krama


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

Antara
 Antara
Wakil Ketua Komisi A DPRD DKI Inggard Joshua 

WAKIL Ketua Komisi A DPRD DKI Inggard Joshua mengkritik cara anggota DPRD dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) William Aditya Sarana dalam menyampaikan informasi kepada publik. Ia mengingatkan penting seorang anggota dewan memiliki tata krama.

Hal ini terkait terkuaknya usulan anggaran pembelian lem aibon yang mencapai Rp82 miliar oleh William di sosial media. Ia meminta Anies untuk transparansi dan tidak buang badan terkait usulan anggaran yang tidak masul akal itu.

"Sebagai anggota dewan kita perlu punya rasa harga diri dan tata krama dalam rangka menyampaikan aspirasi. Khususnya pada saudara William. William ini kan (anggota) baru. Saya berharap bukannya enggak boleh ngomong di koran atau televisi, itu boleh aja. Tapi harus jaga tata krama," ujar Inggard yang merupakan politikus Partai Gerindra saat rapat kerja Komisi A di lantai 3 Gedung DPRD DKI, Jakarta, Kamis (31/10)

Menurut Inggard, jika ada permasalahan yang ingin diungkapkan oleh anggota dewan sebaiknya dibahas dalam forum resmi yang melibatkan anggota lainnya dan pihak pemerintah provinsi (pemprov) DKI.

Baca juga: Soal Lem Aibon, Anies: Salah Input Data

Ia menambahkan, anggaran DKI atau Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020 bisa berubah nominalnya sesuai kesepakatan anggota DPRD.

"Ini saya berharap forum yang kencang itu di ruangan ini. Kita mau berantem ya berantem di ruangan ini, jangan berantem di luar," kata Inggard.

"Aspirasi itu boleh keluar setelah kita melakukan pembahasan jangan sampai belum melakukan pembahasan sudah ramai di koran. Kalau bisa, eksekutif itu mitra kita. Kalau perlu kita ngomong di dalam (saat rapat), jadi enggak ricuh dan bilang enggak pantes ini," lanjutnya.

William bergeming saat disemprot oleh Inggard saat rapat kerja tersebut. Sebelumnya, ia mempertanyakan usulan anggaran yang diajukan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat terkait pembelian lem aibon yang mencapai Rp82 miliar. Menurutnya, hal itu sangat tidak wajar.

“Ini usulan dari mana? Kenapa lem aibon dan kenapa angkanya besar sekali? Saya minta Gubernur jelaskan, jangan buang badan ke anak buah," kata William dalam keterangan tertulis, Rabu (30/10).(OL-5)

BERITA TERKAIT