31 October 2019, 13:29 WIB

Wapres: Sawit Komoditas Bernilai Strategis


Arnoldus Dhae | Ekonomi

Antara
 Antara
Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin  mengatakan sawit mampu berkontribus sebesar Rp270 triliun untuk devisa negara.

WAKIL Presiden Ma'ruf Amin  mengatakan Indonesia patut bersyukur atas tumbuh suburnya sawit sehingga menjadikan neraca perdagangan Indonesia lebih baik.

"Sawit sebagai komoditas bernilai strategis mampu berkontribusi sebesar Rp270 triliun untuk devisa negara. Keberhasilan ini tidak terlepas dari para pelaku usaha sawit. Yakni para petani dan pengusaha khususnya Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)," kata Wapres Ma'ruf Amin saat meresmikan pembukaan konferensi Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Rabu (31/10).

IPOC 2019 merupakan konferensi yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.500 peserta dari 18 negara.

Wapres menambahkan, pembangunan perkebunan kelapa sawit mampu mendorong perekonomian dan menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru seperti di Sumatera Utara, Riau dan Kalimantan. Perekonomian di sejumlah provinsi bertumbuh karena digerakkan oleh sawit. Bahkan, kata Wapres keberadaan sawit mampu menggerakkan perekonomian di daerah pinggiran.

"Karena itu, kedepan peran komoditas ini harus terus ditingkatkan. Apalagi karena adanya peningkatan permintaan dunia akan energi berkelanjutan," ujarnya.

Dalam kesempatan ini Wapres juga mengingatkan, pesan Presiden Jokowi tahun lalu untuk perbaikan sawit. Menurut Wapres, Presiden Jokowi punya 5 pesan penting untuk perbaikan industri sawit yakni  memaksimalkan produktivitas, peremajaan sawit, perluasan ekspor, pengembangan industri hilir, dan keberlanjutan dari program B20 terus dilanjutkan menjadi B30.

Pengembangan kelapa sawit ke depan difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan dan daya saing. Oleh sebab itu program peremajaan Perkebunan Sawit Rakyat (PSR) didukung oleh BPDP-KS harus mampu menuntaskan target  185 ribu hektar.

"Berbagai masalah yang menghambat seperti adminintrasi harus segera diselesaikan khususnya oleh Kementan," tegas Wapres.

Wapres  mengharapkan, industri perlu konsisten memberikan penghargaan bagi KUD yang punya produktivitas tinggi. Hal ini  akan jadi pemicu bagi kelompok lain untuk meningkatkan produktivitas.

Ia berpendapat sertifikat Indonesia Sustainability Palm Oil (ISPO) menjadi bagian penting untuk mengatasi kampanye antisawit. Komitmen GAPKI untuk mensyaratkan semua anggotanya telah tersertifikasi ISPO pada akhir 2020  merupakan langkah sangat baik. Melalui sertifikasi ini pesan negatif yang diarahkan kepada sawit bisa dikurangi dengan data dan fakta terkait komitmen ISPO.

"ISPO merupakan bagian penting dari perbaikan tata kelola per kelapa sawit," kata Wapres.

baca juga: Musim Hujan Waspadai Longsor dan Petir di Pertambangan

Lebih jauh Wapres mengingatkan tentang pentingnya peningkatan produktivitas, hilirisari melalui peningkatan industri untuk oleofood, oleokimia dan sebagainya.

"Peningkatan ini diharapkan mampu mendorong petani swadaya bermitra dengan perusahaan," ujarnya.

Strategi peningkatan penggunaan Biodisel dalam negeri untuk memperkuat pasar domestik dan mengurangi impor minyak bumi harus tetap dilakukan.
Kebijakan B20 saat ini mampu menyerap 4 juta ton minyak sawit dan diperkirakan akan meningkat menjadi 6,4 juta ton yang mampu terserap tahun ini. Sehingga pada awal 2020, 3 juta ton sawit akan bertambah untuk diserap.

Upaya memperkuat pasar domestik dilakukan dengan langsung bekerja sama dengan PLN untuk menciptakan green gasoline dan green avtur. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT