31 October 2019, 12:59 WIB

Terobos Pasar Nontradisional, Indonesia Jual CN-235 ke Nepal


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ANTARA FOTO/Novrian Arbi
 ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Teknisi menyelesaikan produksi pesawat terbang CN235 di Hanggar Fixed Wing PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI), Bandung

KEMENTERIAN Luar Negeri Republik Indonesia terus mendorong upaya diplomasi ekonomi dengan berbagai terobosan ke kawasan Asia Selatan, Afrika dan Timur Tengah. Hal ini merupakan langkah konkret pemerintah untuk terus memperluas penetrasi produk ekspor ke pasar non-tradisional.

Melalui sinergi dan koordinasi di antara para pemangku kepentingan, Indonesia mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang ada. Salah satu hasil kongkretn yakni diberangkatkannya Pesawat CN235-220 buatan PT Dirgantara Indonesia dari Bandung menuju Kathmandu, Nepal.

Pesawat senilai US$30,5 juta akan digunakan sebagai alat angkut multiguna, dijadwalkan tiba di Kathmandu pada 2 November 2019. Pengiriman pesawat ini adalah hasil penandatanganan kontrak kedua negara tahun 2017 di Kathmandu.

"Penggunaan pesawat produksi Indonesia oleh AD Nepal ini semakin mengukuhkan kepercayaan dunia atas karya anak bangsa," ujar Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro dalam keterangan tertulis, Rabu (31/10).

"Nepal adalah negara ke-23 di dunia dan ke-2 di Asia Selatan yang menggunakan CN-235 setelah Pakistan," imbuhnya.

Baca juga: Dirgantara Indonesia Boyong CN235 ke Paviliun Indonesia

Kepercayaan Nepal atas pesawat buatan PT DI semakin kuat setelah tim AD Nepal berkunjung ke Bandung untuk memeriksa langsung CN-235 pada September. Nepal juga bermaksud memesan pesawat ke-2 dari PT DI. Selain Nepal, perusahaan tengah memproduksi sejumlah pesawat untuk beberapa negara termasuk Senegal dan Thailand.

Pembelian pesawat ini mempergunakan sistem pembiayaan melalui program LPEI, yaitu National Interest Account yang merupakan kebijakan pemerintah Indonesia dalam rangka penguatan pembiayaan ekspor.

Penjualan CN-235 ini merupakan bagian dari usaha bersama peningkatan promosi industri strategis nasional untuk bersaing di pasar internasional sesuai arahan Presiden RI. Kemlu dan perwakilan RI terus mendorong promosi dan mengawal proses negosiasi kontrak sejumlah BUMN unggulan agar diplomasi ekonomi memberikan manfaat langsung bagi negara.

Selain PT DI, sejumlah BUMN lain juga tengah melakukan sejumlah pembahasan proyek dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, di antaranya PT Waskita Karya, PT INKA, PT Pindad, PT LEN, Perum Peruri, PT Pelindo II dan PT GMF Aero Asia.(OL-5)

BERITA TERKAIT