31 October 2019, 13:45 WIB

IDI Dukung Menkes Kembalikan Puskesmas untuk Pencegahan Penyakit


Antara | Humaniora

MI/Atalya Puspa
 MI/Atalya Puspa
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kiri) bersama Ketua Ikatan Dokter Indonesia Daeng Mohammad Faqih

KETUA Umum PB IDI Daeng M Faqih mendukung langkah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang akan mengembalikan Puksesmas ke fitrahnya untuk promosi kesehatan dan preventif atau pencegahan penyakit masyarakat.    

Daeng, Rabu (30/10), mengapresiasi upaya Terawan untuk mengembalikan fungsi Puskesmas kembali ke asalnya yaitu kesehatan masyarakat.    

"Itu langkah yang luar biasa komitmennya dalam hal itu. Sebagai pusat kesehatan masyarakat, Puskesmas yang promotif preventif, kalau tidak akan berantakan, upaya indikator kesehatan masyarakat banyak yang turun," ujar Daeng.       

Menurut dia, upaya kesehatan masyarakat pada dasarnya ditujukan ke upaya pencegahan. Dengan pencegahan yang bisa dilakukan dengan biaya murah akan membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih baik disertai menurunnya pembiayaan kesehatan masyarakat.    

IDI berharap komItmen terhadap usaha promotif dan preventif tidak sebatas kata-kata, tetapi dilakukan dengan upaya yang konkrit.

Baca juga: Penaikan Iuran untuk Membenahi Kualitas Pelayanan

IDI menilai salah satu hal yang harus dilakukan dengan anggaran yang cukup dan pengarusutamaan fungsi Puskesmas.    

Menurut Daeng, Puskesmas jangan lagi mengurusi JKN dalam kuratif, akan tetapi fokus pada usaha promotif dan preventif.

"Kita hanya memilikl 9.850 Pukesmas di Indonesia dan yang terakreditasi paripuma hanya sedikit sekall sekitar 100, artinya hanya 1%," ungkap dia.        

Jika jumlah Puskesmas tersebut dibagi rata dengan penduduk Indonesia, satu Puskesmas harus menjaga 27 ribu penduduk.

"Kalau serius bekerja ini saja sudah kelabakan pastinya. Terlebih kondisi geografis menjadikan masalah semakin sulit, bayangkan apalagi disambi dengan mengurus BPJS," ucap Daeng.    

Dia menyampaikan IDI sangat prihatin dengan meningkatnya jumlah orang sakit yang tidak terkendali. Kondisi tersebut dinilai akan menurunkan target-target SDGs serta beban JKN menjadi tinggi dangan banyaknya orang sakit. (OL-2)

BERITA TERKAIT