31 October 2019, 12:45 WIB

Khamenei Tuding AS Picu Kekacauan di Irak dan Libanon


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/HO/Iranian Supreme Leader's Website
 AFP/HO/Iranian Supreme Leader's Website
Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei 

PEMIMPIN Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding Amerika Serikat dan sekutunya menyebarkan ketidakamanan dan kekacauan di Irak dan Libanon. Ia mendesak demonstran antipemerintah di kedua negara untuk menuntut perubahan dengan cara yang sah.

"Rakyat juga harus paham meskipun mereka memiliki tuntutan yang sah, tuntutan itu hanya dapat dipenuhi melalui kerangka struktur hukum," ujar Khamenei, Rabu (30/10) waktu setempat, dalam sambutan yang jarang membahas gelombang demonstrasi yang meletus di Irak dan Libanon, bulan ini.

Berbicara pada upacara kelulusan di Akademi Pertahanan Udara Khatam al-Anbia Iran, Khamenei menuduh AS dan dinas intelijen Barat menimbulkan kerusakan dan menciptakan kekacauan di wilayah tersebut.

"Mereka menghancurkan keamanan. Ini adalah jenis permusuhan terburuk dan perilaku paling berbahaya dan dengki terhadap suatu negara," tegasnya.

Baca juga: Meski Hariri Mundur, Demonstran Berkeras Lanjutkan Aksi

Pidato Khamenei datang ketika AS menyerukan pembentukan pemerintah Libanon baru yang akan responsif terhadap kebutuhan rakyat negara itu.

"Rakyat Libanon menginginkan pemerintahan yang efisien dan efektif, reformasi ekonomi, dan mengakhiri korupsi endemik," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam sebuah pernyataan setelah pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri setelah menghadapi hampir dua minggu protes massa.

Zeina Khodr dari Al Jazeera, yang melapor dari Beirut, mengatakan negara itu lagi-lagi terperangkap dalam arena rivalitas AS-Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, meningkatnya ketegangan antara dua sekutu utama Baghdad, Amerika Serikat dan Iran, telah menimbulkan kekhawatiran di antara banyak warga Irak. Washington dan Teheran berebut pengaruh regional.

Baik AS dan Iran menikmati pengaruh politik dan militer yang signifikan di Irak, dan para pengunjuk rasa bulan ini menuduh elite politik tunduk pada Washington atau Teheran tanpa memerhatikan kebutuhan rakyat jelata. (AlJazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT