30 October 2019, 21:13 WIB

Indonesia Ketinggalan Kecakapan Bahasa Inggris


Retno Hemawati | Weekend

AFP/Frederick Florin
 AFP/Frederick Florin
ilustrasi kelas.

INDONESIA menduduki peringkat 13 dari 21 negara di Asia. Bahkan dalam kurun waktu dari tahun 2014 hingga 2018, Indonesia selalu mengalami penurunan proficiency trends. Peringkat itu ternyata belum baik karena jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Indonesia masih kesulitan untuk mengejar tingkat kecakapan berbahasa Inggris. 

Di sisi lain, besarnya potensi ekonomi Indonesia ditentukan oleh kualitas bonus demografi yang dimiliki. Dari 66% penduduk Indonesia atau 136 juta yang berada pada usia produktif, hanya 10% angkatan pekerja tersebut yang bergelar sarjana. Padahal sebanyak 3,56% anggaran
telah dihabiskan untuk sektor pendidikan dari GDP Indonesia.

Kepala Program Bahasa Inggris Universitas Jambi, Urip Sulistiyo, mengatakan “Beberapa 3 faktor menjadi alasan sulitnya bahasa Inggris mengakar di masyarakat Indonesia, salah satunya adalah metode belajar mengajar yang hanya berorientasi pada materi di kelas dan tidak mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari”. 

Menurut cambridgeenglish.org, saat ini angka pelajar bahasa Inggris di seluruh dunia mencapai lebih dari satu miliar dan akan meningkat menjadi dua miliar pada 2020. Peningkatan angka tersebut didominasi oleh pelajar dan profesional dari negara-negara yang tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

Ada sebuah metode Direct Tutoring yang memberikan akses interaktif bagi pelajar untuk berkomunikasi dengan pengajar secara langsung sehingga pelajar didorong untuk komunikatif selama masa belajar. “Kami melihat data dan statistik, lalu menganalisis kebutuhan pelajar bahasa Inggris di Indonesia. Kami menyadari bahwa pelajar membutuhkan efektivitas dan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris," ujar Tomy Yunus, CEO Cakap, perusahaan startup pengembang aplikasi belajar bahasa asing secara online. (M-4)

BERITA TERKAIT