30 October 2019, 16:00 WIB

HMI Diharapkan Jadi Pelopor Islam Rahmatan Lil Alamin


Widhoroso | Politik dan Hukum

Dok.  Hadiekuntono's Institute
 Dok. Hadiekuntono's Institute
CEO Hadiekuntono's Institute, Suhendra Hadikuntono (tengah) seusai menjadi pembicara diskusi di Sekretariat PB HMI, Jakarta, Rabu.

KADER-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus menjadi pelopor gerakan Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). HMI diharapkan menjadi motor untuk melawan gerakan Islam radikal dan terorisme yang telah mencoreng nama baik dan kesucian Islam.

Hal itu diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) Hadiekuntono's Institute, Suhendra Hadikuntono saat menjadi pembicara dalam diskusi refleksi Sumpah Pemuda" bertajuk "Formulasi Sumber Daya Pemuda Menuju Kemandirian Bangsa dalam Pertahanan Negara" di Sekretariat Pengurus Besar (PB) HMI, Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (30/10). Diskusi dipandu moderator M Rizal Berhed, didampingi Sekretaris Jenderal PB HMI Naila Fitria, Ketua Bidang Pariwisata PB HMI Fauzi Marasabessy dan Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HMI Helmy Yunan.

"Islam telah disalahgunakan oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam untuk radikalisme dan terorisme. Mahasiswa yang notabene adalah pemuda yang merupakan the agent of change (agen perubahan) dan the agent of development (agen pembangunan) sehingga perannya sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ungkap Suhendra.

Lebih jauh, Suhendra mengajak para mahasiswa menjadikan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang baru saja diperingati sebagai momentum bangkitnya pemuda dan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Islam rahmatan lil alamin. "Sebagai agen perubahan dan agen pembangunan, bila mahasiswa bergerak maka kekuatannya sangat dahsyat, dan dampaknya pun sangat luas. Maka bila mahasiswa menjadi pelopor gerakan Islam rahmatan lil alamin yang penuh kesejukan dan kedamaian, radikalisme dan terorisme yang mencoreng nama Islam akan terkikis," ungkap pengamat intelijen yang digadang-gadang sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut.

Lebih jauh, Suhendra menyayangkan stigmatisasi negatif terhadap Islam akibat ulah oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam melalui aksi-aksi radikalisme dan terorisme. Ia merujuk insiden penusukan terhadap mantan Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, 10 September lalu.

"Begitu tersangka pelakunya ditangkap, kesan yang muncul adalah stigmatisasi negatif terhadap Islam, karena diduga sebagai simpatisan ISIS. Padahal Islam yang benar adalah rahmatan lil alamin, bukan yang selama ini dipraktikkan ISIS," terangnya.

Sementara itu, Sekjen PB HMI Naila Fitria menyatakan diskusi semacam ini adalah kesempatan langka dan akan berlanjut. "Dengan diskusi seperti ini para mahasiswa, khususnya kader-kader HMI mendapat up date pengetahuan dan transfer keilmuan dari narasumber terbaik," jelasnya. (RO/R-1)

BERITA TERKAIT