30 October 2019, 12:33 WIB

Ide Ketua MPR Minta Pemuda Terapkan Pancasila Perlu Didukung


Antara | Politik dan Hukum

Istimewa
 Istimewa
Sekjen Generasi Optimis Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga.

SERUAN Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) kepada para pemuda-pemudi Indonesia agar berada di barisan terdepan dalam ikhtiar membumikan Pancasila mendapat respons positif dari Generasi Optimis (GO) Indonesia.

Ajakan Bamsoet agar generasi muda menghadirkan nilai-nilai dan keutamaan Pancasila dalam aktivitas sehari-hari pun mendapat apresiasi dari salah satu organisasi pemuda terbesar di Indonesia itu.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Generasi Optimis Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga, mengaku seruan Bamsoet merupakan tanggapan atas kebutuhan mendesak di Indonesia. Pada saat yang sama, Horas pun tak membantah Ketua MPR itu yang menyatakan usaha membumikan Pancasila bukannya tanpa tantangan.

"Seperti yang Pak Bamsoet katakan, memang ada tantangan-tantangan dalam ikhtiar membumikan Pancasila. Pertama, untuk mengerti konsep dasar Pancasila saja, sekarang ini masyarakat mengalami degradasi waktu pembelajaran Pancasila," kata Horas, Jakarta, Selasa (29/10) malam.

Hal itu, menurut Horas, mempersulit generasi milenial untuk mengenal, mencintai, dan menghidupi Pancasila.

"Jika jam pelajaran Pancasila di sekolah kurang, bagaimana anak-anak dan adik-adik kita bisa memahami Pancasila? Jika mereka tidak paham, bagaimana mereka bisa cinta? Jika tidak cinta, bagaimana bisa menghidupinya?" terang Horas tegas.

Tantangan kedua, menurut lulusan Pendidikan Kesadaran Bela Negara Kementrian Pertahanan RI itu adalah derasnya arus globalisasi yang mengakibatkan generasi muda lebih rentan terhadap serangan ideologi dari negara-negara asing.

"Kondisi ini mengikis ketahanan ideologi Pancasila dalam relung sanubari anak-anak dan adik-adik kita. Maka dari itu situasi ini perlu disikapi dengan menambah jam pelajaran Pancasila dengan gaya mengajar yang kreatif dari para pendidik di sekolah," saran Horas.

Pemerhati intelijen dan politik itu menambahkan, sampai saat ini Pemerintah masih menghadapi tantangan dalam membumikan ideologi Pancasila. Sehingga, pendidikan merupakan sarana ujung tombak yang niscaya bisa dipakai dalam ikhtiar menginkarnasikan Pancasila di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pancasila dan agama

Dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat beragama, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sudah selayaknya menjaga keharmonisan di antarpara pemeluk agama di Indonesia, demikian menurut Horas.

"Bagi saya sederhana saja, kamu, aku, kita sama-sama ber-Tuhan menurut iman dan kepercayaan masing-masing, saling menghormati dan mengasihi sesama manusia ciptaan-Nya, maka itu sudah menjadi implementasi konkret dari penghayatan terhadap sila pertama dari Pancasila," kata Horas.

"Pancasila tidak bertentangan dengan agama apapun yang diakui resmi di Indonesia. Pancasila justru merupakan pancaran sinar yang indah dari ajaran agama-agama bagi bangsa Indonesia yang plural. Pancasila itu cocok dengan karakter bangsa kita yang percaya terhadap Tuhan," kata Horas.

"Mustahil jika ada pihak-pihak yang mengaku beragama dan Pancasilais tapi di saat yang sama ingin mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain. Itu serigala berbulu domba namanya," kata pria yang juga konsultan politik di GO Research & Consulting itu.

Bagi Horas, membumikan Pancasila harus dimulai dengan kesadaran bahwa setiap warga negara wajib menghormati orang lain, walaupun berbeda suku, agama, ras, dan antargolongan. Kesadaran itu perlu diimplementasikan dengan sikap saling menghargai satu sama lain dan memanusiakan manusia yang lain secara pantas. (Antara/OL-09)

 

BERITA TERKAIT