30 October 2019, 08:45 WIB

Meski Hariri Mundur, Demonstran Berkeras Lanjutkan Aksi


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Mahmoud ZAYYAT
 AFP/Mahmoud ZAYYAT
Warga Libanon menyambut pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri

PERDANA Menteri Libanon Saad Hariri mengajukan pengunduran diri, Selasa (29/10) waktu setempat, tunduk pada aksi protes nasional yang berlangsung selama hampir dua minggu yang menyoroti korupsi dan sektarianisme.

Seruan perayaan meluas ke seluruh Libanon ketika pengunjuk rasa menuntut kejatuhan pemerintah merayakan pengunduran diri Hariri--meskipun sebagian besar mengatakan itu hanyalah kemenangan awal dalam pertempuran jangka panjang.

"Ini langkah pertama yang baik tetapi kami masih akan tetap di jalanan (berunjuk rasa)," ujar Pierre Mouzannar, seorang pembuat film berusia 21 tahun kepada Al Jazeera di Beirut tengah.

"Hariri adalah bagian dari masalah tetapi dia tidak semua masalah. Saya tidak berpikir ini sudah selesai," imbuhnya.

Baca juga: PM Libanon Mengundurkan Diri

Pidato televisi Hariri yang muram disambut sorak-sorai oleh kerumunan pengunjuk rasa yang termobilisasi sejak 17 Oktober, melumpuhkan negara untuk menekan tuntutan mereka.

"Kita perlu melakukan kejutan besar untuk memperbaiki krisis. Saya akan pergi ke Istana Baabda untuk mengajukan pengunduran diri pemerintah," kata Hariri, yang sudah mundur dua kali dari jabatan yang sama, seperti dilansir AFP.

Dia mengatakan keputusannya datang sebagai tanggapan atas keinginan banyak rakyat Libanon yang turun ke jalan untuk menuntut perubahan.

Langkah itu, kemenangan demonstran yang paling signifikan, akan memicu tugas rumit parlemen membentuk pemerintahan baru--jika presiden menerima pengunduran diri Hariri.

Pengumuman Hariri datang setelah berhari-hari upaya yang tampaknya tidak berhasil merombak pos-pos dalam koalisinya, ketika ketegangan meningkat di lapangan antara demonstran dan pasukan keamanan bertekad membuka kembali negara untuk bisnis.

Langkahnya juga terjadi setelah bentrokan antara dua kubu demonstran--yang anti dan propemerintah, yang memicu kekhawatiran perselisihan sipil yang lebih dalam.

Dalam pidatonya, Hariri mengatakan ia telah menemui jalan buntu, mendesak elit atau golongan-golongan politik untuk melindungi negara.

"Hariri membuka pintu untuk solusi karena pengunduran diri adalah satu-satunya cara untuk keluar yang layak dari krisis saat ini," kata Sami Nader, direktur Levant Institute for Strategic Affairs.

Setelah pengumuman Hariri, para demonstran di seluruh negeri bertepuk tangan. Ratusan orang berkumpul di Kota Tripoli di utara--kubu perdana menteri Sunni--serta kota Sidon di selatan, tempat keluarganya berasal.

Ahed Madi, seorang demonstran, mengatakan adegan meriah di kota itu sangat simbolis.

"Saad Hariri berasal dari kota ini dan kota ini selalu merangkulnya. Tetapi hari ini, orang-orang menginginkan perubahan," ujarnya kepada AFP.

Para pengunjuk rasa bersikeras agar dilakukan perombakan total atas pemerintahan negara yang berbasis sektarian. (AFP/Al Jazeera/OL-2)

BERITA TERKAIT