30 October 2019, 06:39 WIB

PM Libanon Mengundurkan Diri


Cindy Ang | Internasional

AFP/DALATI AND NOHRA
 AFP/DALATI AND NOHRA
Perdana Menteri Libanon Saad Al-Hariri

PERDANA Menteri Libanon Saad al-Hariri mengajukan pengunduran diri, Selasa (29/10). Hal itu menyusul gelombang protes massa dan tidak adanya kesepakatan dalam penyelesaian krisis.

Langkah politisi Sunni terkemuka itu karena meningkatnya ketegangan politik yang mempersulit pembentukan pemerintah baru yang mampu mengatasi krisis ekonomi terburuk Libanon sejak perang saudara 1975-90. Pengunduran diri ini didukung oleh barat dan sekutu Arab Sunni.

Namun, pengunduran Hariri menjadi pertaruhan karena Libanon berpotensi di bawah bayang Hizbullah yang didukung Iran. Hal ini akan semakin mempersulit menarik masuknya investasi asing ke negara tersebut.

Hariri sebenarnya dipandang sebagai titik masuk bantuan dari negara-negara barat ke Libanon. Libanon sangat membutuhkan dukungan keuangan yang dijanjikan oleh barat.

Baca juga: Tentara AS Tewaskan Calon Penerus Utama Pimpinan ISIS

Aksi massa ini paling serius di jalan-jalan Beirut sejak 2008, ketika para pejuang Hizbullah merebut kendali ibu kota dalam sebuah bentrokan singkat konflik bersenjata dengan para loyalis Hariri.

Libanon dilumpuhkan oleh gelombang protes yang belum pernah terjadi sebelumnya menentang korupsi elite politik yang merajalela.

“Selama 13 hari rakyat Lebanon telah menunggu keputusan untuk solusi politik yang menghentikan kemunduran (ekonomi). Dan saya telah mencoba, selama periode ini, untuk menemukan jalan keluar, yang akan digunakan untuk mendengarkan suara rakyat,” kata Hariri.

Presiden Michel Aoun, sekutu politik Hizbullah, dapat menerima pengunduran diri Hariri dan memulai konsultasi untuk membentuk pemerintahan baru atau meminta Hariri mempertimbangkan keputusannya.

Butuh sembilan bulan untuk membentuk kabinet koalisi Hariri yang mulai menjabat pada Januari awal tahun ini.

Beberapa demonstran bersikukuh tetap menggelar aksi. Salah seorang pengunjuk rasa Tarek Hijazi mengatakan pengunduran diri itu adalah langkah pertama dalam membangun negara demokrasi patriotik.

Gejolak ini telah memperburuk krisis ekonomi akut Libanon. Yang mengakibatkan krisis keuangan kelangkaan mata uang dan melemahnya mata uang Libanon. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT