30 October 2019, 00:40 WIB

Iwan J Kurniawan Raih Penghargaan Festival Sastra Chekhov


Indriyani Astuti | Hiburan

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Iwan J Kurniawan

PENYAIR Iwan Jaconiah Kurniawan, 36, menorehkan prestasi bagi Indonesia dalam pergelaran International Literary Festival Chekhov Autumn 2019 di Yalta, Krimea, Rusia, yang berlangsung 21-24 Oktober 2019.

Lelaki kelahiran Pulau Timor, 27 Juli 1983, itu, meraih Diploma of Honor Award yang merupakan penghargaan pertama bagi Indonesia dalam festival tersebut. "Akhirnya, saya mendapat Diploma of Honor Award. Terima kasih kepada panitia," ungkap Iwan dalam akun Twitter-nya.

Iwan menjadi peserta dalam Festival Sastra Dunia Chekhov melalui enam puisi karyanya yang lolos kurasi panitia. Puisi-puisi tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, dan Rusia. Enam puisi yang ditulis Iwan ialah Musim Panas Terakhir (The Last Summer), Leo (Leo), Silentium (Silentium), Doa (Praying) dan Katedral St. Andrew (St. Andrew Cathedral). Selain itu, dia juga membacakan puisi bertajuk Bumi (Earth).

Puisi Bumi karya Iwan dinilai The Writers Union of the Republic of Crimea paling memukau karena pesan moral dan maknanya sangat kuat. Selain itu, Iwan dianggap membaca puisi tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Rusia dengan penghayatan yang menyentuh.

"Membaca puisi dalam bahasa Indonesia di Festival Sastra Chekhov membuat saya lebih bebas merdeka meski puisi-puisi itu juga saya tulis dalam bahasa Rusia dan Inggris," imbuhnya.

Jalan Iwan menjadi penyair bukan baru yang dijejakkan. Ia telah cukup lama aktif menjadi penyair. Suami dari Clara Rondonuwu yang pernah berkarya sebagai wartawan Media Indonesia itu pun telah berhasil menerbitkan tiga buku puisinya, yakni Tapisan Jemari (2005), Rontaan Masehi (2013), dan Hoi! (2018).

 

Oriental

Festival Sastra Chekhov yang telah berlangsung 10 kali menghadirkan di Yalta, Republik Krimea, dan dihadiri lebih 100 penyair dari 12 negara. Ini meliputi Indonesia, Uni Emirat Arab, Vietnam, India, Bangladesh, Yordania, Mesir, Kuba, Serbia, Montenegro, Ukraina, dan Rusia. Tahun ini ialah kali pertama puisi Indonesia ikut menjadi peserta.

Panitia mengundang Iwan yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana Culturology di Russian State Social University, Moskow, karena puisinya dianggap mewakili tema negeri kepulauan oriental. Keberhasilan penyair tersebut membuka peluang bagi penyair Indonesia lain untuk turut berpartisipadi dalam Festival Chekhov mendatang.

Dalam festival tersebut, puluhan kritikus sastra, novelis, dan penyair bertemu untuk mendiskusikan beragam topik, mulai perkembangan sastra di Asia, Afrika, Amerika, sampai Eropa. Puisi para peserta yang ditulis dalam bahasa Arab, Vietnam dan Indonesia mendapat perhatian khusus sehingga dibedah dan dibaca secara khusus sebagai kajian dalam perkembangan sastra oriental.

Kota Yalta terpilih menjadi penyelenggara karena Anton Chekov pernah tinggal selama lima tahun di kota kecil yang terletak di tepi hitam. Dari tempat paling selatan di Rusia itu, Chekhov menulis tiga karya agung dan diadaptasi ke panggung teater. Yaitu, Lady with a Dog (1898), Three Sisters (1900), dan The Cherry Orchard (1903). (Medcom.id/H-3)

BERITA TERKAIT