29 October 2019, 19:50 WIB

Keluarga Korban Mengenang Insiden Lion Air di Tanjungpakis


Cikwan Suwandi | Nusantara

MI/Cikwan Suwandi
 MI/Cikwan Suwandi
Keluarga Korban Mengenang Insiden Lion Air di Tanjungpakis

SEJUMLAH keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air di Perairan Tanjungpakis, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, melakukan tabur bunga dan membaca doa untuk mengenang peristiwa tragis yang menimpa sanak saudara mereka pada tahun lalu, Selasa (29/10).

Mimin Suratmin, 68, datang beserta anak dan kerabat. Ia datang dari Bangka Belitung untuk mendoakan suaminya, HK Djunaidi, anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018 lalu.

HK Djunaidi, 70, yang menjabat sebagai wakil rakyat selama tiga periode itu meninggalkan seorang istri, tujuh anak, dan empat cucu. Ia tewas bersama sejumlah anggota DPRD lainnya yakni Ahmad Mughni (Golkar), Dollar (PKB), Eling Sutikno (PPP), Mukhtar Rasyid (PAN), dan Murdiman (PKS). Selain anggota dewan, dua staf khusus yaitu Tessa Kausar dan M Syafii juga berada dalam pesawat nahas itu.

"Saya sudah datang tiga kali kesini untuk berdoa," kata Mimin.

Di mata keluarga, Djunaidi merupakan seorang pribadi yang baik. Ia dikenal tak pernah menyepelekan waktu ketika ibadah.

"Ia selalu tepat waktu ketika ibadah. Tidak pernah ditunda," katanya.


Baca juga: Kenang Setahun Jatuhnya Lion Air, Polda Babel Tabur Bunga


Hari ini, tepat satu tahun tragedi pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018. Sebanyak 189 penumpang, termasuk pilot dan kru pesawat, meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Untuk mengenang para korban, pihak Lion Air pun menggelar acara doa dan tabur bunga. Namun, beberapa keluarga yang tidak ikut acara tabur bunga di tengah laut, memilih untuk melaksanakan di Pantai Tanjungpakis.

"Karena jatahnya untuk dua orang," katanya.

Untuk mengenang korban, monumen peringatan korban pesawat Lion Air PK-LQP mulai dibangun di bibir Pantai Pakisjaya.

"Bangunan ini rencananya sepanjang 12,5 meter lebar 6,5 meter itu ditargetkan rampung dalam dua bulan," ungkap Taman Suparman, salah seorang pengawas proyek.

Terlihat sejumlah tukang mulai melakukan mengerjakan fondasi untuk pembangunan monumen.

"Dalam bangunan, rencananya akan ada aula, toilet dan monumen," ujar Tarman. (OL-1)

 

 

BERITA TERKAIT