29 October 2019, 12:42 WIB

Sejumlah Sekolah Pinggiran Kolaborasi dengan Sekolah Australia


mediaindonesia.com | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Muhammad Nur Rizal (pendiri GSM, pojok kiri) mendampingi guru-guru dari Australia dalam kunjungan kebudayaan ke SDN Pendulan. 

PROGRAM Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) membuka peluang bagi sekolah-sekolah pinggiran di Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), Tangerang Selatan, Tebuireng, Jombang (Jawa Timur), dan Jawa Tengah untuk berkolaborasi dengan sekolah berkualitas global dalam Workshop Pengayaan Guru.

GSM mengundang guru-guru dari sekolah model untuk mengikuti workshop pengayaan yang berlangsung dari 29 Oktober hingga 1 November 2019.

Dengan diprakarsai para guru GSM di Sleman, DIY,  Workshop Pengayaan Guri kali ini juga mengundang sekolah-sekolah model lain dari Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, dan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Acara tersebut merupakan buah kolaborasi GSM dengan dua sekolah Australia bertaraf global, yakni Clayton North Primary School dan Ringwood North Primary School.

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, mengatakan, “Kolaborasi global sebenarnya merupakan sendi utama dalam pendidikan di era disrupsi ini. Sekolah dari Indonesia sudah tidak memiliki batas untuk menjalin hubungan dengan sekolah lain di belahan dunia mana pun."

"Adapun dalam praktiknya, hanya sekolah favorit yang mampu dan mendapat kesempatan lebih besar untuk mewujudkannya. GSM menerobos hal itu dan membuka peluang bagi sekolah non-favorit atau pinggiran untuk bersinergi dengan sekolah bertaraf global,” jelas Muhammad Nur Rizal di Jakarta, Selasa (29/10).

“Dengan mengundang sekolah dari Australia berkualitas global ke sekolah yang terpinggirkan, GSM berniat menghapus pengkastaan di pendidikan. Yang layak berjejaring dengan dunia pendidikan global tidak hanya berasal dari sekolah mahal atau favorit," tutur Rizal.

"Sekolah rakyat sederhana, namun ekosistemnya menyenangkan dan memanusiakan, justru berpeluang jadi model sekolah masa depan," tegasnya.

"Mereka berhak berdiri sejajar dengan sekolah dari negara maju, jika kualitas manusianya diukur dari bekal ketrampilan yang dibutuhkan di abad 21, yakni kreativitas, kolaborasi, komunikasi dan pikiran kritis,” tandas pria yang juga menjadi Dosen Fakultas Teknik UGM itu.

Program GSM digagas pertama kali oleh Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra pada September 2013.
Platform GSM telah turut meningkatkan kualitas guru dan ekosistem pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran.

Sejauh ini, GSM telah menyebarkan pengaruh ke berbagai area di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, Tebuireng, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. (OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT