29 October 2019, 10:45 WIB

Awal Musim Hujan, Bencana Hidrometreologi Marak Terjadi


Indriyani Astuti | Humaniora

ANTARA/Mohamad Hamzah
 ANTARA/Mohamad Hamzah
Sejumlah warga berada di sekitar rumah yang terendam rob (banjir pasang air laut) di Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah

BEBERAPA daerah sudah memasuki musim penghujan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kewaspadaan terhadap potensi  bencana hidrometrologi seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung ditingkatkan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo menuturkan sebagian wilayah sudah mengalami musim hujan bahkan terjadi bencana banjir dan tanah longsor seperti di Aceh, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat.

Sedangkan beberapa wilayah yang mengalami pancaroba terjadi bencana puting beliung di beberapa wilayah, antara lain di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

"Pusat Pengendali Operasi BNPB mencatat beberapa kejadian tersebut di Jawa Barat, Aceh dan Kalimantan," ujar Agus di Jakarta, kemarin.

Baca juga: Ajakan Peduli Lingkungan dengan Cara Kreatif

Prakiraan BMKG, 20% wilayah pada Oktober 2019 sudah memasuki musim penghujan, 47% wilayah pada November 2019 mulai musim hujan, dan 23% wilayah akan memasuki musim penghujan pada Desember 2019. BMKG telah mengidentifikasi prakiraan curah hujan selama November 2019.

Beberapa wilayah dengan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi dapat terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan sebagian Sumatra Barat dan sebagian wilayah Papua.

Untuk sebagian wilayah Sumatra lainnya, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku terpantau curah hujan dengan kategori rendah hingga menengah selama November nanti.  

Sedangkan perkembangan terkait dengan bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung, BNPB mencatat, selama Oktober 2019, terjadi 57 kali puting beliung menyebabkan 1 orang meninggal dunia, 10 orang luka-luka, 462 mengungsi, 7.425 unit rumah rusak.

Dari jumlah rumah rusak tersebut, sebanyak 200 rusak berat (RB), 898 rusak sedang (RS) dan 6.327 rusak ringan (RR). Sedangkan kerusakan pada fasilitas umum, sebanyak 37 fasilitas rusak yang mencakup 15 fasilitas pendidikan, 20 peribadatan dan 2 kesehatan.

Bencana puting beliung terjadi di Jawa Tengah 21, Jawa Barat 14, Aceh, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan 4, Sumatera Utara 3, Sumatera Barat masing-masing 2 kali, Banten, Di Yogyakarta, Kalimantan Barat dan Riau masing-masing 1 kali.

Selain puting beliung, BNPB juga mencatat terjadinya  tanah longsor pada periode yang sama sebanyak 8 kali dan mengakibatkan 2 orang meninggal dunia, 73 mengungsi, serta kerusakan pada 21 unit rumah (2 RB, 10 RS, 9 RR), 3 fasilitas (1 Fasilitas pendidikan, 2 Fasilitas Peribadatan). Tanah longsor terjadi di Jawa Barat 6 kali, Jawa Timur 1 dan Sumatra Utara 1 kali. Becana banjir juga tercatat terjadi 7 kali yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia, 285 mengungsi, 237 unit rumah terendam. Banjir terjadi di Aceh 5 kali, Sumatera Barat 1 dan Sumatra Utara 1.

"Bahaya ini perlu diwaspadai karena menjadi  bencana mematikan dalam kurun waktu  beberapa tahun terakhir," ucap Agus.

Sementara itu, beberapa daerah masih mengalami puncak musim kemarau sehingga kondisi lahan sangat kering dan mudah kebakaran. Agus menuturkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Beberapa gunung di Pulau Jawa dan NTB juga mengalami kebakaran juga.

Karhutla masih terjadi hingga pekan kelima September 2019. BNPB mencatat luas lahan terdampak karhutla mencapai 857.756 ha dari Januari hingga September 2019. Agus menyampaikan enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan BNPB masih mengindikasikan terjadinya karhutla, dilihat dari beberapa indikator seperti kualitas udara dan titik panas.

Ditinjau dari kualitas udara yang diukur dengan PM 2,5 dan bersumber dari KLHK dalam 24 jam terakhir menunjukkan kualitas udara pada kategori baik hingga tidak sehat.

Data kualitas udara di Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Jambi menunjukkan kategori sedang, di wilayah Sumatra Selatan tidak sehat dan Riau baik.

Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan lebih dari 30% melalui citra satelit modis-catalog Lapan pada 24 jam terakhir menunjukkan 148 titik, dengan distribusi di Sumsel 48 titik, Kalsel 58, Kalteng 30, Jambi 7, Kalbar 5 dan Riau tidak terpantau titik panas.

Di samping karhutla di enam provinsi prioritas tadi, karhutla juga terjadi di beberapa wilayah di seluruh Indonesia. Untuk Pulau Jawa, karhutla terjadi di lahan mineral atau di kawasan gunung. BNPB memantau karhutla yang masih terjadi di Gunung Ungaran, Cikuray, Sumbing, Arjuno, Ringgit dan Rinjani.

BNPB juga mencatat beberapa laporan karhutla khususnya di Pulau Jawa, Bandung, Bandung Barat, Banjarnegara, Banyuwangi, Blitar, Bogor,  Bojonegoro, Bondowoso, Brebes, Cirebon, Garut, Grobogan, Jember, Jepara,  Jombang, Karanganyar, Kediri, Kendal, Kota Batu, Kota Malang, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Tegal, Kudus, Kuningan, Lumajang, Madiun, Magelang, Magetan, Majalengka, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pangandaran, Pasuruan, Pekalongan, Ponorogo, Probolinggo, Purbalingga,  Purwakarta, Purworejo, Semarang, Sidoarjo, Situbondo, Sragen, Sukabumi, Sukoharjo, Sumedang, Sumenep, Tegal, Temanggung, Trenggalek, Tuban, Wonosobo, dan Wonogiri. (OL-2)

BERITA TERKAIT