29 October 2019, 07:45 WIB

Terkait Kematian Mahasiswa Sultra, 6 Polisi Ditunda Naik Pangkat


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

ANTARA/Mohammad Ayudha
 ANTARA/Mohammad Ayudha
Mahasiswa melakukan aksi solidaritas dan duka cita terhadap korban jiwa mahasiswa Universitas Halu Oleo di depan Polresta Solo, Jawa Tengah.

KEPALA Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Asep Adi Saputra  mengatakan enam polisi yang diduga melakukan pelanggaran standar operasional pengamanan demonstrasi mahasiswa telah diputus bersalah dan ditunda satu tahun kenaikan pangkat.

"Oleh karenanya, secara keseluruhan, diberikan hukuman disiplin yang pertama teguran lisan, penundaan satu tahun kenaikan pangkat, dan mereka ditempatkan di tempat khusus selama 21 hari," kata Asep di Kawasan Jakarta Pusat, Senin (28/10)

Dia menjelaskan, keenamnya disidang karena diduga melanggar standar operasional prosedur (SOP) dengan membawa senjata api saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Halu Oleo di depan Kantor DPRD Sultra, 26 September 2019 lalu.

"Penanganan enam personel Polda Sultra yang melakukan pelanggaran dispilin sehubungan membawa senpi pada kegiatan pengamanan Unras. Saat ini sudah diputuskan keenam anggota tersebut dinyatakan bersalah karena melanggar aturan disiplin," sebutnya.

Baca juga: 6 Personel Polda Sultra Diputus Bersalah Bawa Senpi Amankan Unras

Sebelumnya, Kepala Biro Provost Divisi Propam Mabes Polri Brigjen Hendro Pandowo mengatakan tim investigasi Polri mengungkap terdapat enam anggota polisi yang membawa senjata api saat demo mahasiswa yang berakhir ricuh di DPRD Sultra.

Oleh karena itu, anggota polisi itu diperiksa Propam Polri terkait tewasnya mahasiswa karena tertembak.

"Kami tetapkan enam anggota jadi terperiksa karena saat unras membawa senjata api," ujar Kepala Biro Provost Divisi Propam Mabes Polri Brigjen Hendro Pandowo, Kamis (3/10).

Menurutnya, mereka membawa senjata laras pendek jenis SNW dan HS. Tim investigasi masih memeriksa keenam polisi dari Polda Sultra dan Polres Kendari.

"Ini kita dalami kenapa senjata itu dibawa saat pengamanan unras, padahal sudah disampaikan kapolri untuk tidak bawa senjata," sebutnya

Keenam polisi itu berinisial DK, GM, MI, MA, H dan E.  Sebut Hendro, pihaknya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan senjata saat pengamanan demo mahasiswa terkait tewasnya Immawan Randy, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sultra.

Dalam olah TKP di Jalan Abdullah Silondae, Kendari, polisi menemukan tiga selongsong peluru di saluran drainase di depan kantor Disnakertrans Sultra, Sabtu (28/9).

Begitu juga tim dokter forensik yang melakukan autopsi memastikan Randy tewas karena terkena tembakan senjata api.

Diketahui, mahasiswa perikanan semester 7 ini meninggal dunia usai terlibat bentrokan dengan polisi di Gedung DPRD Sultra, Kamis (26/9) lalu.

Randy dibawa ke rumah sakit Korem Kendari sekitar 16.18 WITA oleh sejumlah temannya usai diterjang peluru pada bagian dadanya.

Warga asal Desa Lakarinta Kabupaten Muna itu sempat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Korem Kendari. Nyawanya tidak bisa diselamatkan karena peluru menembus dada kanannya.

Selain korban meninggal, salah satu mahasiswa Teknik UHO Kendari bernama La Ode Yusuf Kardawi juga mengalami kritis setelah kepalanya dihantam aparat.

Yusuf, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2018 yang sempat dirujuk ke Rumah Sakit Bahteramas Kendari. Namun, ia juga menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami luka parah pada bagian kepala setelah tidak sadarkan diri. (OL-2)

BERITA TERKAIT