29 October 2019, 06:40 WIB

Pemuda Kunci Kesuksesan Bangsa


Media Indonesia | Politik dan Hukum

Dok. Setwapres
 Dok. Setwapres
Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno (dua kanan).

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin diangkat sebagai anggota ­kehormatan atau anggota luar biasa organisasi ­kemasyarakatan (ormas) Pemuda Pancasila (PP) dalam acara Penutupan Musyawarah Besar X Pemuda Pancasila di Jakarta, kemarin.

Pengangkatan dilakukan Ketua Umum Terpilih Majelis Pimpinan Nasional (MPN) PP Japto Soerjosoemarno di hadapan pengurus pusat, perwakilan pengurus daerah, dan kader PP.

“Dengan mengucap bismillahir­rahmanirrahim, kami mengangkat KH Ma’ruf Amin menjadi anggota kehormatan atau anggota luar biasa Pemuda Pancasila,” katanya.       

Selain Wapres Ma’ruf, Japto juga memberikan titel anggota kehormatan atau anggota luar biasa kepada Presiden Joko Widodo yang dilakukan pada acara Pembukaan Mubes X di Jakarta, Sabtu (26/10).

“Kemarin kita sudah mengangkat Presiden RI Joko Widodo, dan banyak yang mempertanyakan, kok saya ambilnya dari kantong, kenapa? Karena kalau di kantong, saya bertanggung jawab sebagai pemegang kartu anggota Pemuda Pancasila,” tambahnya.

Saat menutup acara, Wapres berpesan agar PP dapat menjadi organisasi kemasyarakatan yang dapat mengawal ideologi Pancasila tetap menjadi falsafah negara sehingga menjaga negara dari ancaman separatisme, radikalisme, dan terorisme.

“Kita harus terus menjaga semangat, bagaimana mengawal Pancasila agar tetap abadi, menjaga dari berbagai elemen bangsa yang ingin merusak keutuhan bangsa ini karena bagi kita NKRI adalah harga mati,” ujarnya.

Menurutnya, pemuda Indonesia ialah kunci kesuksesan bangsa sehingga setiap pemuda wajib memenuhi seluruh nilai dari sumpah pemuda, yaitu berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yang diikrarkan setiap 28 Oktober.

“Orang mudalah yang pertama yang menyadari pentingnya persatuan, menggerakkan perlawanan mengusir penjajah, dan memaksa para tokoh memproklamasikan kemerdekaan. Kalau tidak ada pemuda, belum tentu terjadi proklamasi pada 17 Agustus 1945,” tegasnya.

Disebutkan, salah satu upaya menghadapi tantangan jebakan sebagai negara dengan pendapatan kelas menengah (middle income country) ialah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Upaya pertama untuk dapat keluar dari jebakan tersebut ialah dengan menyediakan kualitas pendidikan yang baik,” lanjutnya. (Ant/P-4)

BERITA TERKAIT