28 October 2019, 22:06 WIB

Mewujudkan Perdamaian harus Berlandaskan Kehendak Baik


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

Ist
 Ist
Imam Masjid di Tivo, Italia Muhammad Hasan Ali Abdghaff (kiri), Markus Solo Kewuta dan Sekjen Masjid Raya Roma Ridouan

MEWUJUDKAN perdamaian itu harus diawali kehendak baik yang berwujud kekuatan kasih, persaudaraan, persahabatan, dan berpikir positif.


Semua faktor kehendak baik itu akan menjadi dasar untuk bertahan dan akan menang terhadap kekuatan-kekuatan desktruktif, termasuk paham radikalisme. Bangsa Indonesia harus mengembangkan kehendak baik agar pluralisme keberagaman menjadi kekuatan membangun dunia yang damai.

Demikian dikemukakan Markus Solo Kewuta SVD atau Padre Marco, dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama saat ditemui AM Putut Prabantoro, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) yang juga Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI di Kantor Dewan Kepausan Vatikan, Rabu (16/10).

“Kita harus memiliki kehendak yang baik, kita percaya sesuatu yang baik itu cepat menjalar daripada keburukan. Seperti melemparkan batu kecil atau kerikil di telaga. Meski kecil ketika kerikil jatuh di telaga dia akan membentuk lingkaran gelombang, dari kecil dan lama-lama akan meluas-meluas. Kita harus gunakan falsafah ini untuk menyebarluaskan kebaikan,” jelas Padre Marco.

Menurut pejabat Vatikan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan yang deras sekali dari berbagai arah.

Ia merasa prihatin dan tidak tenang jika mengikuti berita-berita dari berbagai media massa di Tanah Air.  Namun, ia optimistis masih banyak orang dari berbagai agama, budaya, etnik, yang masih bisa bekerja sama dan bersahabat serta berpikiran positif.  
 
Yang menjadi masalah, lanjut Padre Marco, walaupun gerakan-gerakan yang berpikiran lain itu kecil atau menempati posisi yang lebih sempit,  gaung gerakan mereka itu secara psikologis sangat dominan, Kondisi itu membuat orang takut dan bahkan putus asa.

“Nah, untuk menghadapi hal ini kita seharusnya lebih dulu menaruh perhatian pada kekuatan kebajikan yang ingin kita perjuangkan bersama. Belajar dari tradisi-tradisi baik yang ada kita selalu diajarkan dan ditanamkan di dalam hati kita, perilaku kita, tutur kata kita bahwa yang baik-baik itu pasti akan lebih bertahan dan akan menang,” ujarnya.

Lebih jauh Padre Marco mengapresiasi dan mendukung kiprah Putut Prabantoro yang konsisten dan berkelanjutan menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan keutuhan NKRI.

Menurut dia, apa yang dilakukan Putut Prabantoro yang juga Ketua  Presidium Bidang Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) ini,  sangat baik mengingat intoleransi terus berkembang dan sudah sangat mengkhawatirkan karena telah merasuki institusi pertahanan dan keamanan.  

“Mereka yang seharusnya melindungi kita, menjaga keamanan, yang sudah bersumpah untuk menjaga kesatuan NKRI malah masuk dalam kelompok orang yang berpikiran lain dan terpapar paham radikalisme dan bersikap intoleransi,” katanya.

Demikian pula harapan yang sama ia tujukan kepada media. Ia meminta media untuk selalu menjaga persahabatan dan relasi yang baik,  menyebarkan berita positif serta menperluas jaringan persahabatan kemana-mana.

Dokumen Abu Dhabi


Dalam kesempatan itu, Padre Marco mengingatkan soal Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani pimpinan tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Thayyeb pada Februari 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Deklarasi itu ingin mendekatkan sisi-sisi kemanusiaan dari kehidupan dalam masyakarat yang plural.

Deklarasi Abu Dhabi tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – Fratellanza Umana Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen tentang– Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”. Dokumen bersejarah ini diterjemahkan dalam 7 bahasa termasuk Inggris, Arab, Jerman, dan Italia.

Menurutnya, Deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian. Artinya, deklarasi ini memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalanan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

“Bantu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan dicari makna dan solusinya secara bersama-sama pula,” ujar Padre Marco.


Ia menilai rakyat Indonesia secara internal saat ini tengah ditantang rasa kerukunan dan rasa kesatuannya sebagai sebangsa se-Tanah Air yang sudah mulai goyah, mengalami ketidakpastian. Dengan berbagai peristiwa kekerasan, seperti terakhir menimpa Menko Polhukam Wiranto, menurut dia,  turut mendukung rasa ketidakpastian di dalam relasi antarmasyarakat. Orang jadi takut dan waswas satu sama lain, selalu curiga yang sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.

Kepada masyarakat Indonesia, ia berharap masyarakat untuk lebih berpikir waras dan bijak dalam menyerap berita, menerima doktrin dan menyikapi pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa.

Pasalnya, ia melihat gejala-gejala dan alur yang sama dari negara-negara yang sudah hancur, kini tengah dialami Indonesia. “Alur di negara kita seperti itu, tentu kita tidak mau sampai ke sana (hancur).  Karena itu kita harus bekerja sama mencegah hal itu dengan terus menjaga dan meningkatkan kerukunan, persatuan, perhabatan, demi perdamaian,” ujarnya. (RO/OL-8)

 

BERITA TERKAIT